Jumat, 01 Juli 2011

We Were There (CHAPTER 4)

Jejak yang ditinggalkan pena itu mulai tak berbentuk. Tinta hitam yang semula menuliskan deretan huruf-huruf kini sudah berganti dengan garis-garis tak beraturan menyerupai sandi rumput yang bahkan semakin lama semakin mendekati bentuk garis lurus.



Ify tersentak kaget saat matanya menatap kertas yang ada di hadapannya.

“Ahhh!!!”



Dipandanginya kertas berharga yang sedari tadi dengan sekuat tenaga coba ia isi di tengah ribuan hal yang sedang menghimpit pikirannya. Kejadian yang tadi siang ia alami masih menyisakan rasa penasaran tanpa ada seorangpun yang bisa membantunya menemukan jawaban atas apa yang ia pertanyakan.



Namun disisi lain, ada tugas yang tak kalah penting yang tak boleh ia lupakan. Sebenarnya di tengah-tengah ia memikirkan kejadian tadi siang, selalu saja ada satu kalimat yang menelusup pikirannya, yaitu “Aku tak mengenalnya dan itu bukan urusanku.” Akan tetapi ia tetap tak bisa membendung rasa penasarannya. Walhasil ia tenggelam dalam lamunan panjang sementara tangannya terus menggoreskan pena di atas kertas yang ia kerjakan.



Dengan desah putus asa Ify meremas kertas yang ada di tangannya. Sekarang ia sudah terlalu lelah untuk melanjutkan tugas papernya. Memikirkan kejadian tadi siang cukup membuat tubuhnya kehilangan banyak enargi dan sekarang yang tersisa tinggallah lemas yang menggelayuti tiap organ tubuhnya. Tugas paper tulis tangan itu harus ia serahkan besok sebagai syarat utama untuk masuk ke klub koran sekolah. Di tahun pertamanya sebagai murid SMA ia ingin setidaknya mengikuti satu ekskul saja. Dan klub Koran sekolah adalah yang ia pilih. Tapi, gara-gara lelaki bodoh itu sekarang ia kehilangan semangat untuk mengerjakan tugas prasyarat klub tersebut.



Dengan kesal Ify beranjak dari meja belajarnya dan melangkah gontai mengambil tas jinjing yang tadi ia geletakkan begitu saja di atas kasur. Dikeluarkannya laptop kesayangannya dari dalam tasnya itu. Ify memandangi laptopnya yang sudah tak berfungsi lagi.



“Aaahhh!!!!”

Ify menenggelamkan wajah ke kasurnya yang empuk masih sambil memeluk laptopnya. Namun, tiba-tiba bayangan wajah anak itu kembali melintas dalam pikirannya dan membuat Ify tersentak lalu buru-buru mengangkat wajahnya. Ia teringat kalimat yang diteriakkan anak itu sebelum ia pergi.



“Apa yang sebenarnya diinginkan anak itu? Kenapa dia begitu bersikeras melarangku melakukannya?”

Ify mengguman pelan. Sunyi. Pertanyaannya mengambang begitu saja. Pandangan matanya kembali tertumpu pada laptop rusaknya yang terdiam kaku di pangkuannya. Akhirnya sekali lagi Ify menenggelamkan wajah di kasur empuknya dan meluapkan kekesalannya dengan berteriak sekuat-kuatnya karena dengan demikian suara teriakannya tak kan terlalu terdengar.

______________



“Lepaskan!!! Arrrggghh!!!”

Rio terus berteriak meronta saat dua orang bertubuh kekar yang tadi membawanya sekarang menariknya keluar dari mobil dan menyeretnya memasuki sebuah gedung. Sekuat tenaga Rio mencoba melepaskan diri tapi tenaganya tak cukup untuk membuat dua orang itu meloloskannya. Mereka terus membawa Rio menyusuri lorong-lorong yang tampak remang-remang karena penerangan yang seadanya. Setiap orang yang mereka lalui menatap mereka dengan tatapan aneh.



Dua orang itu membawa Rio ke sebuah ruangan kecil yang dikelilingi oleh kaca-kaca hitam. Ruangan itu hanya berisi 2 buah kursi yang dipisahkan oleh meja kecil yang terbuat dari baja yang merembetkan hawa dingin ketika kulit menyentuhnya. Sebuah ruangan dengan penerangan yang sangat minim sehingga menimbulkan kesan suram dan dingin bagi orang yang memasukinya. Mereka menghempaskan tubuh Rio dengan kasar ke sebuah kursi disana. Mereka terus menahan tubuh Rio disana sampai akhirnya seorang laki-laki berambut putih memasuki ruangan itu dan membuat dua orang yang sedari tadi berlaku kasar padanya mengangguk hormat pada orang tersebut.



Lelaki tersebut duduk di kursi yang berhadapan dengan Rio. Mereka hanya dipisahkan oleh sebuah meja kecil.



“Lama tak bertemu, Rio. 4 minggu?”

Lelaki itu tersenyum pada Rio yang langsung memalingkan mukanya dari tatapan Kepala Kantor THIRD-I tersebut.



“3 minggu.”

Rio mengoreksi dengan ketus apa yang diucapkan Pak Susilo.



“Oh, 3 minggu ya? Hh, kau benar-benar menghitungnya dengan baik. Apa kau masih kesal karena kami memergoki ulahmu?”

Pak Susilo tertawa kecil di hadapan Rio yang masih menahan rasa kesal karena penangkapan dirinya kali ini.



“aku tidak melakukan apapun belakangan ini. Kenapa kalian membawaku kesini lagi?”



“Hmmmm. Mario Stevano. Kamu adalah seorang hacker yang jenius. Kode namamu adalah Falcon. Dan saat kami mengetahui bahwa kamu hanyalah seorang murid kelas 2 SMA kami benar-benar terkejut. Apalagi, saat kami tau kamu adalah anak dari Pak Tantowi.”

Pak Tantowi yang melihat percakapan mereka dari balik kaca mengepalkan tangannya mendengar apa yang diucapkan kepala kantornya. Jika bisa menolak, tentu saja ia tak akan membiarkan anaknya terlibat dalam masalah besar ini.



“Kami ingin Falcon membantu kami. Jakarta……akan musnah. Sebuah kota di Rusia telah menghilang. Sebentar lagi, mereka akan mencoba melakukan hal yang sama pada Jakarta.”



“Aku tau”

Jawaban ketus Rio membuat Pak Susilo tak bisa menyembunyikan keterkejutannya, lalu sejenak kemudian ia tertawa kecil.



“Hhh, sudah kuduga dari seorang Falcon. Kamu tidak mungkin menyerah begitu saja hanya karena kami menangkapmu kan? Jadi, kamu juga sudah melihat video itu?”

Rio tak menjawab. Sekali lagi Pak Susilo tertawa kecil. Ternyata bocah di depannya bisa luput dari pengawasannya.



“ternyata ada bocah yang mencuri video berharga dari data kami. Kau memang anak nakal.”

Rio semakin menampakkan raut wajah jengah dengan orang tua di depannya yang tak juga mengatakan apa alasan ia ditahan.



“ Baiklah kalau kamu sudah melihat video itu, kami tidak perlu menjelaskan panjang lebar lagi tentang duduk permasalahannya. Kami membawamu kesini karena kami ingin kamu mencari tau apa yang telah terjadi disana. Tidak mudah untuk meminta informasi tentang terorisme itu langsung dari pemerintah Rusia. Mereka belum mau menerima negosiasi kami tentang informasi rahasia mereka itu. Di kota ini ada instalasi militer Rusia, Dan kami……….. ingin kamu untuk menge-hack komputer mereka. Aku rasa kamu bisa melakukannya.”



Kalimat itu sontak membuat Rio beranjak dari kediamannya.

“Anda menyuruh saya melakukan tindakan kriminal?”



“Jika kamu berpikir begitu, berarti kamu juga sudah melakukan tindakan kriminal 3 minggu yang lalu, dan juga mencuri data rahasia kepolisian itu adalah tindak kriminal tentunya.Bukankah begitu?”



Rio tercekat mendengar perkataan yang benar-benar telak baginya.



“Karena kemampuanmu bisa menyelamatkan orang lain, kenapa kamu tidak menggunakannya?”



“Aku menolak.”

Rio menjawab singkat. Pak Susilo menghela nafas, ia mendekatkan wajahnya ke hadapan Rio.



“Dengar, Falcon. Kau, teman-temanmu, keluargamu, semuanya akan musnah, Jakarta akan musnah. Jika kau bisa menyelamatkan mereka, apa kau akan diam saja?”

Pandangan dua orang itu bertemu. Tak ada sepatah katapun yang bisa diucapkan Rio. Untuk beberapa saat kemudian mereka hanya saling melempar pandangan tajam satu sama lain.



--------------------



Rio berjalan gontai menuju kamarnya. DI dalam pikirannya sekarang masih berseliweran kalimat-kalimat yang diucapkan oleh Pak Susilo. Tanpa menunggu persetujuan darinya mereka dengan seenaknya memberinya batas waktu sampai 3 hari untuk mendapatkan data dari militer Rusia tersebut. Mereka bahkan memberinya laptop khusus untuk tugas yang mereka berikan tersebut.



Di tengah kebimbangannya menentukan pilihan, tiba-tiba langkahnya terhenti saat pandangannya tanpa sengaja tertumpu pada sebuah foto yang terpampang di meja depan. Foto keluarga mereka. Ayah, Ibu, dia dan adik perempuannya saat mereka semua masih bisa tertawa bersama. Ibunya sudah meninggal karena kecelakaan. Sementara adiknya harus meninggal di usia muda karena gagal ginjal yang dideritanya. Dan ayahnya……



Begitu pandangannya sampai pada wajah ayahnya, sontak Rio mengerjapkan matanya dan segera berlalu dari sana. Entah kenapa setiap kali ia mengingat ayahnya ia akan merasa begitu kesal. Sudah hamper 2 minggu ayahnya tak pernah sekalipun pulang ke rumah. Alasan pertama ayahnya adalah bahwa ia harus menuntaskan terorisme yang sedang melanda Jakarta. Oleh karena itulah Rio mencuri data rahasia THIRD-I untuk mencari tau apa yang terjadi. Awalnya ia bisa memaklumi keputusan ayahnya, akan tetap setelah hampir dua minggu ia sama sekali tak melihat wajah ayahnya hatinya mulai berontak. Bahkan saat siang tadi ia ditangkap oleh THIRD-I pun ayahnya sama sekali tak mau menampakkan batang hidungnya. Padahal ia adalah commander di THIRD-I yang seharusnya ikut berbicara padanya mengenai hal tadi. Saat ini ia benar-benar merasa sendiri di tengah beban pikiran yang sekarang harus dipikulnya.



Rio membanting pintu kamarnya hingga menimbulkan suara bergema di rumahnya yang sepi itu. Rasa kesal pada ayahnya benar-benar telah hampir sampai pada puncaknya.



***Domain: we were there. Password:chapter 4***



Rabu, 29 Juni 2011



Ify menarik nafas dalam-dalam sebelum membuka handel pintu di hadapannya. Kali ini dia benar-benar nekat. Dia datang ke ruangan itu tanpa membawa apapun.



Perlahan Ify membuka daun pintu dan melongokkan wajahnya melihat keadaan di dalam. Pandangannya langsung disambut oleh tatapan 6 orang di ruangan tersebut. Mereka semua langsung menoleh kearah Ify saat pintu ruangan itu berderit pelan menampakkan wajah Ify yang mengintip ke dalam.



“Ify ya?”

Seorang perempuan berambut panjang menyapa Ify sambil mendekat ke arahnya. Ify hanya mengangguk pelan.



“Masuk masuk….”

Seorang laki-laki dengan kamera SLR tergantung di lehernya mempersilahkan Ify masuk. Ragu-ragu Ify mendekat pada mereka. Sekuat tenaga ia mengatur nafasnya agar tak tampak tersengal karena perasaan berdebar yang sekarang semakin melanda dirinya. Apapun yang terjadi, ia harus siap dengan konsekuensi atas kenekatannya menantang mereka.



“Selamat datang di Klub Koran sekolah. Tugasnya?”



Seperti yang Ify duga, itu adalah hal pertama yang mereka tanyakan. Ify menggigit bibirnya pelan. Inilah saatnya ia menerima segala resiko atas kebodohannya.



“Anu kak……… maaf……….. saya………… belum bikin.”

Begitu kalimat Ify yang terbata-bata itu berakhir, raut wajah 4 orang di hadapannya langsung berubah. Sementara 2 orang yang lain masih berkutat menulis sesuatu. Sepertinya dua orang itu adalah anak magang seperti dirinya.



“Kenapa belum buat?”

Satu lagi anak laki-laki dengan rambut agak berantakan beranjak dari duduknya dan langsung memasang wajah galak di hadapan Ify. Melihat wajah orang di depannya sekarang membuat Ify menggigit bibirnya pelan.



“Jawab dong jangan diem aja.”



Ify menelan ludahnya sebelum akhirnya ia berani mengeluarkan suara.

“Maaf kak, saya….”



Suara Ify sontak terhenti begitu terdengar suara pintu terbuka. Semua orang pun langsung mengalihkan pandangannya pada daun pintu yang perlahan menampakkan seseorang yang membawa sebuah kardus cukup besar di tangannya.



“Eh? Ify?”

Semua orang langsung mengerutkan kening saat orang yang baru masuk tersebut langsung melihat ke arah Ify dengan senyum terkembang. Berbeda dengan Ify yang tersentak dan tanpa sadar melangkah mundur saat melihat wajah orang itu telah tampak sepenuhnya dari balik daun pintu.



“Kamu?!?!?”

Ify tak bisa menyembunyikan ekspresi shock dari wajahnya.



“Kamu kenal ,Yo?”

Anak laki-laki berambut berantakan yang sedari tadi memasang wajah menyeramkan sontak berubah ekspresi melihat Rio yang tampak akrab dengan anak perempuan di depannya.



“Ah, iya. Dia Ify. Aku mengenalnya.”



Ify masih belum bisa mengatakan apa-apa. Matanya masih melotot menatap anak laki-laki itu.



“Dia tidak mengerjakan paper yang kita minta.”

Perempuan berambut panjang tadi langsung mengadukan kebandelan Ify.



“Oh, iya, maaf maaf, kemaren dia membantuku melakukan sesuatu dan sepertinya dia kelelahan. Dia sudah meminta ijin padaku untuk minta waktu tambahan satu hari lagi.”

Dengan santainya anak laki-laki itu melangkah melewati mereka dan menuju rak besar di pojok ruangan sambil mengucapkan kalimat itu dengan santai tanpa mempedulikan Ify yang semakin ternganga di tempatnya.



“Melakukan apa?”

Tampak ekspresi tidak percaya dari wajah anak laki-laki dengan kamera di lehernya.



“Suatu hal yang penting.”

Rio tak memalingkan wajah pada mereka sedikitpun. Dia masih sibuk merapikan tumpukan kertas-kertas dari kardus yang tadi ia bawa.



“Tapi kan…”



“Langsung aja kita mulai yuk. Keburu sore nih.”

Rio memotong kalimat teman perempuannya begitu saja dan langsung duduk di salah satu kursi yang mengelilingi satu meja panjang di ruangan itu. Empat orang lainnya langsung mengikuti walaupun dengan ekspresi wajah yang masih sedikit penasaran. Dua orang anak magang lainnya yang sudah duduk sedari tadi sekarang menghentikan kegiatan menulisnya dan duduk diam menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.



Sementara itu, dengan bodohnya Ify masih berdiri tercengang sambil menatap Rio. Semua orang yang menyadari tingkah Ify sontak menatap Ify dengan dahi berkerut.



“Ify ayo duduk.”

Perempuan berambut panjang tadi melambaikan tangannya pada Ify. Ify mengerjapkan kedua matanya dan dengan langkah ragu ia mendekati kursi yang berada di sebelah dua orang anak magang yang lain. Matanya masih menatap Rio yang sekarang sedang sibuk membolak balik buku agendanya.



“Oke, selamat siang semuanya…”



“Siang.”

Dua orang anak magang itu menjawab dengan penuh antusias. Sementara 4 orang lainnya menjawab ala kadarnya. Dan Ify, ia masih terdiam terpaku mencoba menenangkan gejolak dalam hatinya.



“Terima kasih atas kedatangan kalian semua di gathering kita yang pertama siang ini. Agenda siang ini adalah penyambutan adik-adik magang yang akan bergabung dengan klub Koran sekolah sampai satu tahun ke depan. Setelah melalui proses seleksi akhirnya kami memilih kalian bertiga sebagai siswa magang untuk kepengurusan tahun ini. Sebelumnya saya minta maaf karena mungkin saya belum sempat bertemu langsung dengan kalian selama seleksi kemarin karena ada hal lain yang harus saya kerjakan. Langsung saja berhubung sudah sore juga, kita mulai saja dengan perkenalan. Mulai dari samping kiri saya ada Alvin, kelas 2D, Koordinator lapangan klub Koran sekolah.”

Rio menunjuk anak laki-laki berambut berantakan yang tadi memasang wajah menyeramkan pada Ify. Anak laki-laki bernama Alvin itupun tersenyum pada ketiga anak magang yang ada disana. Seketika wajah menyeramkan yang ia pasang tadi langsung hilang dan berganti dengan wajah ramah yang membuatnya terlihat lebih baik.



“Kemudian ada Shilla kelas 2D juga, sekretaris. Dan ada Zahra kelas 2B, bendahara.”

Rio menunjuk perempuan berambut panjang yang tadi menyambut Ify, lalu kemudian satu perempuan lagi yang sedari tadi tampak diam. Perempuan yang bernama Zahra tersenyum ramah pada anak-anak magang. Wajah cantiknya semakin tampak lucu dengan rambut yang dikuncir cepol dan kacamata berframe pink yang ia kenakan.



“Yang ini Gabriel, kelas 2H, Koordinator rubrik.”

Rio menunjuk anak laki-laki yang sesekali mengambil foto mereka dengan kamera yang tergantung di lehernya.



“Oke, dan saya sendiri, Rio, kelas 2D, ketua klub Koran sekolah. Selamat datang dan selamat bergabung di klub ini.”

Di akhir kalimat Rio melirik dan tersenyum pada Ify. Dan itu membuat Ify langsung menundukkan wajahnya. Ify masih tak habis pikir, apa yang sebenarnya terjadi. Bukankah kemarin Rio dibawa oleh orang-orang berbadan kekar? Lalu sedang apa dia disini? Di sekolah ini? Duduk satu ruangan dengannya dengan senyum menyebalkan yang membuat Ify serasa ingin melempar sepatu ke wajah anak itu? Apalagi Rio yang ia lihat sekarang sungguh berbeda dari yang ia temui sebelumnya. Rio yang berada di hadapannya sekarang tampak lebih ceria, tak seperti Rio yang Ify temui sebelumnya yang benar-benar menyebalkan, menyeramkan, penuh misteri, dan cenderung sedikit gila.



Agenda selanjutnya adalah giliran perkenalan anak magang, kemudian dilanjutkan dengan perkenalan program kerja klub Koran sekolah dan ditutup dengan foto bersama. Ify menjalani acara siang itu benar-benar dengan perasaan yang sangat tidak nyaman. Pikirannya sudah melayang kemana-mana. Di sepanjang acara sore itu ia lebih banyak diam dengan pandangan yang sesekali melirik pada Rio. Entah apa yang ia rasakan sekarang. Rasa penasaran, kesal, marah, bingung, takut, semua campur aduk menjadi satu. Akhirnya ia sadar kenapa beberapa saat yang lalu ia merasa seperti pernah mengenal anak itu. Ternyata ia pernah melihatnya sekilas di foto pengurus klub Koran sekolah yang terpajang di pamflet open recruitment saat penerimaan siswa baru.



Ify tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya dan kegilaan-kegilaan apa lagi yang akan menimpa dirinya setelah pertemuannya dengan hacker sialan itu siang ini. Ia benar-benar harus menemukan jawaban atas rasa penasarannya itu secepat mungkin atau kalau tidak dia mungkin bisa mati penasaran karena memikirkannya.



***Domain: we were there. Password:chapter 4***



Kamis, 30 Juni 2011



Sudah 15 menit dari bel masuk tetapi guru pengajar mereka belum juga tampak memasuki kelas. Sementara itu Rio masih menatap langit di luar jendela kelas dengan tatapan kosong. Pagi ini pikirannya kembali melayang pada kalimat-kalimat yang diucapkan Pak Susilo.



“Teman-temanku akan musnah, keluargaku akan musnah, semua orang akan musnah.”

Rio mengguman pelan masih dalam lamunannya.



Beberapa detik kemudian sontak dia tersadar dan langsung meraih tas yang sedari tadi ada di hadapannya. Bergegas ia mengeluarkan laptopnya dan secepat mungkin menyalakannya. Rio memandangi laptop dengan logo THIRD-I yang ada di hadapannya. Masih ada sedikit keraguan dalam hatinya. Akan tetapi tak lama kemudian ia meraih flashdisk yang tergantung di lehernya dan menancapkannya pada slot laptopnya. Begitu flashdisk hitam dengan tulisan SAVE THE DATA itu tertancap, muncullah lambang burung yang langsung mendominasi layar laptopnya dengan warna merah. Sesaat kemudian warna merah itu hilang dan berganti dengan box command prompt. mulailah Rio meregangkan jari-jarinya sebelum akhirnya berkutat dengan tuts-tuts keyboard. Akhirnya Rio sudah mengambil keputusan.



falcon@ws2 # nasm sc3.asm

falcon@ws2 # python –I atk3.py web25.boucka.ru 2323 –f sc3

Getting ebp offset

Saved ebp: 8xbf97ced8 ret to: 8xbf97cd84



Rio terus bergumam sementara jari-jemarinya mengetik dengan cepat. Ia mencari cara agar bisa masuk ke database militer Rusia.



“Target adalah instalasi militer Rusia. Tapi, jika aku masuk dari depan, maka kemungkinanku untuk bisa lolos adalah mustahil.”



Press enter to connect again

Recv: 31 c8 5a eb 8c e8 f9 ff ff ff 2f 62 69 6e 2f 73 68 5b 52 8d 4b 88 88 41 ff 89 19 8d 51 84 89 82 84 8b cd 88 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41 41

Id

Vid=8(root) gid=8(root) groups=8(root)

Cd /var/www

Ls –la



“Tujuan utama adalah titik terlemah dari security system. Kemudian mencuri passwordnya dan menjadi administrator, lalu kemudian memasuki security system level selanjutnya.”



Total 16

Drwxr –xr-x 2 root root 4896 Sep 2 19:42

Drwxr –xr-x 16 root root 4896 Aug 25 02:38 passwd index.html

Password found 4e6ayw6pa

Test:46zdVar.TqDQQ

>>>



“Jika aku melakukan ini berulang-ulang, aku bisa semakin dekat pada target.”



falcon@ws2 # nasm sc3.asm

falcon@ws2 # python –I atk3.py web25.boucka.ru 2323 –f sc3

Getting ebp offset

Saved ebp: 8xbf97ced8 ret to: 8xbf97cd84



Jemari Rio terus mengetik deretan kode-kode yang akan membawanya semakin dekat pada tempat penyimpanan data. Sekarang ia sudah memasuki level keempat dari security system. Namun, tiba-tiba…



“Sial…..gerakku terdeteksi.”



Secepat mungkin Rio mengetik deretan huruf untuk meloloskan diri sebelum seluruh gerbang host tertutup. Surveillance system instalasi militer Rusia tersebut baru saja menangkap gerak geriknya yang mencurigakan. Jika ia tidak bisa mengejar waktu maka ia akan tertangkap dan itu akan menjadi masalah besar untuknya.



Kill -9 $$

Connection closed.

>>>connkill ()

Stopping../succesfull.



Rio menghempaskan punggungnya ke sandaran kursinya. Nafasnya cukup memburu setelah berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan diri.



“Hampir saja.” Rio menggumam lega.



Baru saja ia mencoba mengatur ritme nafasnya, tiba-tiba masuklah Kepala sekolah ke kelas mereka. Kedatangan kepala sekolah kali ini mengundang reaksi yang berbeda dari siswa yang ada disana. Seisi ruangan mulai gaduh begitu melihat orang yang mengikuti di belakang Kepala sekolah.



“Selamat pagi anak-anak. Berhubung Pak Heru sedang ada dinas ke luar kota untuk beberapa minggu ke depan, maka pagi ini saya akan memperkenalkan seorang guru baru yang akan menggantikan Pak Heru untuk sementara.”



Kelas semakin gaduh begitu mengetahui bahwa orang di samping kepala sekolah tersebut adalah guru yang akan mengajar mereka sampai beberapa minggu ke depan.



“Ini adalah Bu Maya. Beliau lulusan dari sebuah universitas di Jepang. Beliau ahli dalam bidang botany. Dan untuk itu beliau akan menggantikan Pak Heru untuk mengajar Biologi di kelas ini.”



Beberapa murid mulai mengamati guru baru itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Seorang perempuan muda dengan bentuk tubuh seksi dan penampilan yang tampak begitu anggun. Menggunakan kemeja putih dipadukan dengan rok sekitar 3 cm di atas lutut yang menampakkan kaki putih mulusnya yang tinggi semampai membuat para siswa terutama siswa lelaki mulai tersenyum-senyum bahagia. Tak terkecuali Rio. Perlahan senyum mulai tersungging di bibirnya setelah beberapa detik sempat terpana dengan guru baru yang berdiri di depan kelas tersebut.



“Kalian semua sungguh beruntung karena seorang guru yang sangat menakjubkan seperti beliau datang ke sekolah ini.”

Kalimat bapak kepala sekolah hanya disambut senyuman oleh Bu Maya, dan itu membuat semua siswa semakin terpana dengan wanita tersebut. Senyum di bibir Rio pun tampak semakin lebar. Dan tanpa disangka-sangka tiba-tiba pandangan Bu Maya tertuju pada Rio. Rio pun sontak menyurutkan senyumnya dan langsung menundukkan wajahnya karena merasa salah tingkah. Dan sepertinya Bu Maya juga sudah mengalihkan pandangannya kearah lain.



“Baiklah, silahkan Bu Maya melanjutkan perkenalan dengan anak-anak, saya tinggal dulu ya Bu.”

Bu Maya kembali tersenyum mengantar kepala sekolah yang keluar dari kelas. Sekarang tinggallah Bu Maya sendiri yang berdiri di depan.



“Saya rasa pertanyaan ini cepat atau lambat pasti akan muncul, jadi saya akan menjawabnya sekarang. Mmmm, saat ini saya sedang tidak punya pendamping. Tipe laki-laki yang saya sukai adalah seseorang yang menyukai tanaman atau bunga.”



“Aku aku…”

Suara seorang anak lelaki dari pojok ruangan sontak mengundang tawa kecil dari Bu Maya.



“Dan mungkin juga…..laki-laki yang kaya…”

Bu Maya hanya menyunggingkan senyum di akhir kalimatnya.



“Apa-apaan dia ini.”

Shilla menggumam pelan dengan ekspresi wajah yang sedikit jengah. Walaupun sebenarnya tak dipungkiri dia juga sempat kagum dengan kecantikan guru baru mereka.



“Baiklah, kalian sudah menyelesaikan bab 2 kan? Jadi, hari ini kita akan masuk ke bab 3.”



Semua murid bergegas membuka bukunya masing-masing. Namun, Rio masih tertegun memandang Bu Maya yang mulai menuliskan judul bab 3 di papan tulis. Shilla yang duduk di belakang Rio menyadari teman di depannya yang masih bengong. Sontak ia pun mengambil buku dan tanpa basi basi…



Plakkk!!!!!

Shilla memukul kepala Rio dari belakang yang otomatis membuat Rio tersadar dari lamunannya.



“Awww!!”

Rio pun berteriak cukup kencang dan mengundang perhatian anak-anak lain termasuk Bu Maya.



“Apa yang kalian ributkan?”

Bu Maya mendekat ke bangku Rio. Rio yang melihat Bu Maya mendekat bergegas menutup laptop yang ada di mejanya.



“mmmmm, tidak ada apa-apa, Bu.”



Bu Maya membuka buku absen yang ada di tangannya. Ia tampak mencari-cari di antara deretan nama.



“Mmmm, Mario Stevano…..” Bu Maya mengeja nama Rio.

Pandangan Bu Maya tertuju pada laptop yang berada di atas meja.



“Ini, perlihatkan pada saya.”

Bu Maya menunjuk laptop di meja Rio.



Rio pun tersentak.

“Mmmm, anu…. Ini….”



“Lebih baik ibu tidak melihatnya, paling isinya cuma game atau gambar-gambar cewe cantik.”

Kalimat usil Shilla tersebut langsung ditanggapi dengan pelototan Rio.



Bu Maya mengamati siswa yang ada di depannya itu. Wajah cantiknya sempat menampakkan ekspresi dingin saat menatap Rio yang menundukkan kepalanya. Namun, sesaat kemudian senyum kembali tersungging dari bibirnya.

“Oke, Rio….setelah pelajaran nanti temui saya di lab biologi.”

Setelah mengucapkan kalimat itu Bu Maya langsung beranjak kembali ke depan kelas.



Rio masih tertegun mendengar perintah Bu Maya barusan. Tapi sejenak kemudian sebuah senyum berangsur-angsur tersungging dari bibirnya. Alvin yang duduk tak jauh dari Rio melihat ekspresi Rio dan berbisik pelan padanya.



“Lucky…”



Rio hanya tersenyum pada Alvin. Sementara Shilla yang melihat dua orang teman laki-lakinya itu hanya memanyunkan bibir sambil membuka kembali halaman yang diperintahkan Bu Maya.



_____________



Ify masih berdiri di trotoar seberang rumahnya. Suasana malam di jalan itu semakin terasa sunyi karena jalanan yang mulai sepi. Pandangannya kosong menatap lalu lalang kendaraan di depannya. Padahal rumahnya ada di seberang jalan, tetapi entah kenapa ketika hendak menyeberang ia kembali teringat pada hacker sialan itu dan mau tak mau kembali menenggelamkan Ify dalam lamunan panjang karena rasa penasaran yang tak kunjung mendapat jawaban.



Beruntung hari ini tak ada kumpul klub Koran sekolah sehingga ia tak perlu melihat wajah memuakkan hacker sialan itu. Dan beruntung pula saat ia ke basecamp klub Koran sekolah untuk menyerahkan papernya tadi siang, tak ada anak laki-laki itu disana. Dia merasa belum siap untuk bertemu kembali dengan orang itu. Rasa marah dan kesal masih belum bisa ia kendalikan setiap kali melihat wajah menyebalkannya.



Perlahan Ify meraba saku tasnya. Ia mengeluarkan sebuah lipatan kertas A4 dari dalamnya. Ditatapnya deretan huruf hasil print outnya barusan.



Name : Mario Stevano

Birth : Jakarta, 24 Oktober 1994

Father : Tantowi Jonathan (THIRD-I public safety police division , commander 2007-present)

Mother : Muthia Elena (Passed away)

Siblings : Nadia Elena (Passed away)

Address : Jl. M.H. Thamrin No 24, JAKARTA 10350

Telp. : (021) 324308

Fax. : (021) 325460

Phone : 085645381158

Blood type : B

Data from police department : Ditahan 6 Juni 2011 atas tindakan hacking terhadap data server THIRD-i.

Data from public department : Registered 093060016422



Hanya data-data itu yang bisa ia dapat setelah 30 menit duduk di warnet dan menjelajah data server Badan Pusat Statistik dan data dari kepolisian. Rasa penasaran terhadap sosok Falcon mengundang keingin tahuan Ify untuk mencari data-data tentangnya. Sedikit memang yang dia dapat, tapi, satu hal yang menjadi perhatian Ify sejak pertama kali melihat data-data tersebut.



“Jadi ayahnya bekerja di THIRD-i? Ditahan karena hacking terhadap data server THIRD-i?”

Dua kalimat itu semakin mengundang rasa penasaran bagi Ify. Dan sekarang laptopnya belum bisa berfungsi. Ia harus mengumpulkan cukup uang sebelum bisa mengirimnya ke service center. Dan karena itulah, untuk sementara ia harus jauh dari aktivitas hacking yang merupakan kegiatan favoritnya selama ini. Ify kembali menghela nafas mencoba menahan kemarahan yang mulai muncul perlahan.



Ify melipat kembali kertas tersebut dan menggenggamnya erat. Ia menengok ke kanan kiri dan mulai melangkah menyeberang jalan.



Ify meraba-raba saku tasnya mencari kunci rumah sambil berjalan menaiki tangga halaman depan rumahnya. Baru saja Ify akan menancapkan kunci ke pintu rumahnya, tiba-tiba pandangannya tertuju pada sesuatu yang tergeletak di depan pintu.



Ify mengamati benda tersebut. Sebuah kardus terbungkus kertas coklat. Di atasnya tertulis nama dan alamat rumahnya. Sebuah paket untuk Ify.

Ify meraih kardus tersebut dan bergegas membuka kunci rumahnya kemudian buru-buru masuk ke dalam. Ia menghempaskan tubuhnya begitu saja ke kursi ruang tamunya. Tak sabar ia membuka bungkusan yang membalut kardus tersebut.



Satu persatu kertas yang membungkus kardus tersebut mulai tanggal. Perlahan Ify membuka kardus tersebut dan betapa terkejutnya Ify saat melihat apa isinya.



Story from: Bloody Monday

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar