Sabtu, 21 Mei 2011

Segalanya Pasti Berujung (PART 11)

Jantungnya berdesir, tubuhnya merinding menatap wajah orang yang duduk tak jauh dari tempatnya berdiri.
 Sivia berdiri mematung….

sosok di hadapannya menghentikan ketukan tangannya di kursi dan sontak berdiri dari duduknya begitu mengetahui Sivia sudah berdiri tak jauh dari tempatnya.

Mereka berdua saling menatap dengan luapan perasaan yang tercermin dari sorot mata masing2.

Sivia menangis.
Air matanya reflek mengalir saat mengetahui siapa yang sedang dihadapinya. Sivia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Badannya terasa lemas.

“Via!!!” Sosok itu menubruk tubuh Sivia dan memeluknya erat sekali. Rasa rindu yang teramat sangat membuatnya tak peduli lagi dengan segala sesuatu. Saat ini yang dia inginkan hanyalah memeluk Sivia seerat dan selama mungkin.

Air mata Sivia semakin gencar meluncur. Kini dia terisak dalam pelukan tamunya. Ia tak tau kenapa dia seperti ini. Jantungnya tiba2 saja terasa berdebar dan matanya terasa panas. Bukankah seharusnya dia menyambut tamunya, tapi kenapa dia justru menangis……

Sivia benar2 merasakan ada luapan perasaan aneh yang tiba2 menyergap tubuhnya. Dan sekarang dia rasanya ingin menangis sepuasnya di dalam pelukan tamunya itu. Entah karena apa dia sendiri tak mengerti.

Sementara tamunya itu juga memeluknya semakin erat. Sivia bisa merasakan tangannya gemetar dan dia juga merasakan seperti ada luapan perasaaan dari orang yang memeluknya sekarang.

“Cakka….” Sivia menyebut nama itu dengan bergetar diselingi isakan dan guncangan tubuhnya semakin menjadi.

Cakka memeluknya semakin erat. Air mata Sivia membasahi dada Cakka yang memeluknya erat sekali.

“Via…..aku merindukanmu….aku mencarimu Via….aku mencarimu….” Cakka merasakan detak jantungnya berpacu berpadu dengan detak jantung Sivia yang sudah tak karu2an.

Tak ada lagi yang bicara. Hanya ada isakan Sivia dan pelukan erat Cakka.
Beberapa menit dalam diam, tiba2 Sivia menjauhkan dirinya dari pelukan Cakka. Sivia menatap Cakka masih dengan mata sembab.

“Via….” Cakka menatap mata Sivia lekat2. Tatapan mata tulus yang tak pernah berubah sejak dulu. Tatapan mata yang selama ini sempat terlupakan oleh Sivia.

Wajah Cakka buram dalam pandangan Sivia karena air mata yang menggenang di pelupuknya.

“Bagaimana kau bisa menemukanku?” Sivia menghapus sendiri air mata dipipinya.
“Aku………aku melihatmu di TV. Aku melihat adikmu….aku melihatmu Via, aku menemukanmu…..aku ….aku menemukanmu…..” Cakka bicara terbata2 gugup. Dia begitu senang bisa bertemu lagi dengan orang yang sangat dirindukannya.

“Pulanglah Cakka…”
Cakka kaget mendengar kalimat Sivia.
“Aku…aku merindukanmu Vi…..”
Sivia menggigit bibirnya. Dia ingin memeluk Cakka tapi dia tak mungkin melakukannya. Dia ingat kalau sudah ada Rio yang mengharapkan dirinya. Tapi Sivia tak bisa memungkiri bahwa dia pernah mencintai Cakka dan masih mencintainya sampai sekarang.

“Pulanglah….” Sivia harus membohongi perasaannya sendiri.

“Tapi Vi….”

“Pulanglah Cak…” Sivia berlari masuk ke dalam rumah dan bergegas hendak menutup pintu tapi Cakka menahannya.
“Vi….aku pengen ngomong sama kamu Vi…Via…” Cakka menahan pintu yang hendak ditutup oleh Sivia.

“Pulanglah Cakka….” Sivia berteriak dari dalam. Dia mendorong pintu lebih kuat hingga tertutup lalu menguncinya dari dalam.
“Vi!!! Via!!!! Buka Vi…” Cakka mengetok dari luar tapi Sivia tak mempedulikannya. Dia jatuh terduduk bersandar di pintu dengan berurai air mata.
Cakka tak terdengar memanggil2 namanya lagi. Beberapa saat kemudian terdengar suara mobil yang menjauh dari halaman rumahnya. Sivia terisak memeluk lutut di belakang pintu.

Tiba2...

“Kak…..” Suara lemas Alvin mengagetkan Sivia dari isakannya. Sivia sontak menoleh ke arah sumber suara yang sudah berdiri beberapa meter di depannya.

“Eh…Vin…Kok turun?” Sivia segera berdiri dan buru2 menghapus air matanya.

“Kakak kenapa nangis???” Alvin berjalan mendekati kakaknya dengan tatapan khawatir.

“Alvin kenapa turun?” Sivia tak menjawab pertanyaan Alvin.

“Kakak lama….Alvin ga mau sendirian….” Alvin menatap mata Sivia sayu.
Sivia akhirnya tersadar bahwa tadi dia meninggalkan Alvin dalam keadaan sedang shock berat.
“Kakak kenapa?” Alvin masih penasaran.

“Gapapa…ayo….ganti bajunya…udah kusut begitu…” Sivia menggandeng tangan Alvin ke lantai atas.
Alvin hanya mengikuti langkah Sivia sambil terus memandangi mata kakaknya yang sembab.
Sivia menemani Alvin sampai dia tertidur. Setelah merapikan selimut adiknya, Sivia berjalan gontai ke kamar. Bayangan wajah Cakka menari2 di pelupuk matanya.

Sivia tak menyangka Cakka akan hadir lagi dalam hidupnya.
Cakka adalah orang yang dulu sangat disukainya…..Dia masih belum bisa menghilangkan perasaannya pda Cakka. Tapi bagaimana dengan Rio. Dia tak ingin menyakiti hati Rio yang sangat menyayanginya walaupun mereka baru sekedar HTS.

Tapi hati Sivia amat sakit harus membohongi dirinya sendiri.
Dia masih sangat menyayangi Cakka. Jika dia membiarkan Cakka masuk lagi dalam kehidupannya, dia tak bisa membohongi dirinya bahwa hatinya pasti lebih memilih Cakka. Dia harus membunuh perasaannya pada Cakka.

Sivia terisak di kamarnya teringat pertemuannya dengan Cakka malam ini.
“Cakka…..” Sivia menyebut nama Cakka lirih sama seperti saat dia menyebut nama itu 3 tahun yang lalu saat mereka masih SMP. Perasaan yang harus dipendam karena suatu alasan.

>>>>>>>>>>

6 hari lagi GF akan digelar. Alvin benar2 berusaha mati2an berlatih vokal. Apapun akan dia lakukan agar suaranya bisa lebih baik. Dia mendapatkan semangat dari orang2 terdekatnya. Dia memang sempat terpuruk karena kejadian di pentas dulu. Tapi support dari Sivia, teman2 sekelasnya, fans2 nya, Aren, Ozy, dan bahkan Ray saingannya di GF juga mendukungnya dengan semangat menggebu2.

Setiap hari Alvin bergantian berlatih dengan Pak Duta dan Aren. Aren pernah mengajaknya ke studio musik ayahnya dan meminta ayahnya untuk melatihnya. Pak Duta mencari berbagai cara agar anak didiknya itu bisa menyanyi dengan baik.

Tiada hari tanpa latihan…..

>>>>>>>>>>

Sejak hari Rabu kemaren Alvin dan Sivia menginap di salah satu hotel di Jakarta Barat. GF akan diadakan di salah satu gedung di daerah itu. Dan akan disaksikan langsung oleh Gubernur DKI. Kontes menyanyi ini memang akan memperebutkan piala bergilir dari Gubernur. Tapi GF ini tidak untuk umum. Hanya para pendukung, keluarga dan orang2 lingkup SMP saja yang bisa menyaksikan.

Dan untuk keperluan latihan, para finalis disewakan hotel di dekat situ sehingga akomodasinya tidak merepotkan.

Sekarang hari Sabtu, Alvin pulang dari latihan terakhir sebelum GF besok.
Rio yang mengantar mereka hari ini.
Jam 3 sore mereka kembali ke hotel…..Alvin sepertinya sudah kelelahan. Ray tadi sudah pulang duluan sementara Alvin, Sivia dan Rio mampir dulu ke rumah makan. Alvin sudah merengek2 minta sate sejak kemaren. Tapi mereka belum sempat membelikannya.

Mobil Rio berhenti di depan hotel tempat Alvin dan Sivia menginap.

“Kamu ke kamar dulu aja Vin…cepetan istirahat. Kakak ngambil barang2 di bagasi dulu.”

“Biar Alvin bantuin Kak….” Alvin menutup pintu mobil dan hendak melangkah ke bagasi.
“Ga usah Vin kamu ke kamar aja dulu. Biar kakak sama Kak Rio aja yang bawa.” Sivia menarik bahu Alvin dan menjauhkannya dari bagasi.
Alvin cuma manyun tapi akhirnya meraih kunci yang diacungkan Sivia dan melangkah juga ke dalam hotel.

Sivia mengambil barang2 yang tadi mereka bawa saat latihan. Tidak banyak sih….hanya beberapa tas kecil, sehingga cukup Sivia saja yang membawa. Setelah semua barang keluar dari bagasi, Sivia segera menyusul Alvin masuk ke dalam sementara Rio memarkir mobilnya.

Sivia berjalan di lorong lantai satu menuju lift yang berada di pojok. Kamar mereka di lantai 3. Dia menenteng tas punggung Alvin yang berisi baju ganti dan beberapa kantong makanan.

Beruntung saat itu lift sedang sepi sehingga Sivia bebas meregangkan tubuhnya yang pegal karena duduk berjam2 menemani Alvin.

Sudah sampai di lantai 3. Lift pun terbuka. Sivia melangkah keluar dari lift hendak menuju kamarnya yang ada di pojok. Tapi saat keluar dari lift dia menghentikan langkahnya kaget. Tak jauh dari kamarnya ada gerombolan orang2 yang tampak sedang meributkan sesuatu. Terdengar suara orang membentak dan memaki.

Alangkah kagetnya Sivia saat dia mengetahui siapa yang ditunjuk oleh orang yang sedang memaki itu.

“Alvin???”

Alvin tampak terpojok dikepung kurang lebih 5 orang yang menatapnya dengan pandangan menyeramkan. Wajahnya tampak bingung dan takut.

Sivia berjalan bergegas ke arah mereka. Tapi belum sampai dia di tempat itu tiba2.…

PLAKK!!!!

Salah satu orang itu menampar pipi Alvin.

“Alvin!!!!” Sivia yang tadi berjalan cepat sekarang berlari ke arah adiknya. Tas2 yang dibawanya dia buang begitu saja.
Sivia berlari ke arah Alvin. Begitu dia sampai dia langsung memeluk kepala adiknya yang tampak ketakutan.

“Heh…apa2an ini?” Sivia melindungi Alvin yang sepertinya sebentar lagi akan diberi tamparan susulan.
“Eh….kalian pasti nyuap kan? Suara adekmu jelek begitu kok bisa2nya masuk GF?”

“Eh kalian ini siapa? Berani2nya nampar Alvin.”

Sivia menatap gerombolan orang itu dengan tatapan marah. Tapi dia langsung tau siapa mereka saat membaca tulisan “RAY” di kaos mereka yang juga ada sablonan foto Ray. Ternyata mereka fansnya Ray.

“Kalau sampai Ray kalah gara2 kalian yang tukang suap ini, kami ga akan rela.”

Seseorang dari mereka berusaha menjambak rambut Alvin yang masih berada di pelukan Sivia. Badan Alvin gemetar.
Cepat2 Sivia menepis tangan orang itu.

“Eh jangan macam2 ya…”
 Tapi massa itu sudah tak terkendali. mereka semua berusaha meraih Alvin yang berada dalam pelukan Sivia. Sivia berusaha mendekap adiknya erat2 berusaha agar tangan2 itu tak mampu menjangkau bagian tubuh manapun dari Alvin. Tapi Sivia tetaplah seorang perempuan. Dia tak sekuat itu mampu menghadapi keroyakan 5 orang di hadapannya.

Beberapa dari mereka berusaha menarik tangan Alvin, menjambak rambutnya, bahkan mendorong2 tubuh mereka.

“Jangan!!! Tolong!!!” Sivia berteriak tapi tak ada satu orangpun yang keluar dari sekian banyak kamar di lorong itu. Sivia kwalahan. Alvin yang berada dalam pelukannya sudah menangis ketakutan. Badannya ditarik2.

Pintu kamar di sebelah kamar Alvin terbuka. Sosok Ray keluar dari dalam. Sepertinya dia mendengar kegaduhan di dekat kamarnya. Dia kaget saat melihat Alvin dan kakaknya dikeroyok oleh orang2 dengan kaos bergambar dirinya. Ray segera berlari menghampiri mereka. Bersamaan dengan itu…

“Woeeeiii!!!!” Rio datang dan langsung menepis tangan2 liar yang mengeroyok Alvin dan Sivia.

“Bawa Alvin ke kamar Vi!” Rio menahan orang2 itu sementara Sivia bergegas membawa Alvin menjauh dari mereka dan menuju kamarnya.

Rio berusaha menghadang orang2 yang berusaha mengejar Alvin dan Sivia.
Ray yang melihat keadaan itu tiba2 berteriak kencang

“Berhenti!!!!” Sontak orang2 itu menghentikan aktivitasnya yang saling baku hantam.
Ray berjalan ke arah mereka dengan tatapan marah.

Begitu sampai di hadapan mereka dia berkata dengan tegas.

“Aku ga mau punya fans seperti kalian!!!!”
Setelah menyelesaikan kalimatnya Ray langsung berlari menyusul Alvin ke kamarnya disusul oleh Rio. Orang2 itu terdiam di tempatnya.

Rio dan Ray segera masuk ke kamar Alvin. Tampak Sivia masih memeluk Alvin yang sudah menangis kejang. Sivia dan Alvin masih berdiri di dekat pintu.

“Vin…udah Vin…mereka udah ga ada..” Sivia menenangkan adiknya walaupun sebenarnya dirinya juga panik.

Tubuh Alvin bergetar hebat. Isakannya semakin keras terdengar. Sivia mendekap adiknya. Tangannya mengelus pipi Alvin yang tadi ditampar oleh orang2 rese itu dan sekarang basah karena air mata.

Rio dan Ray terpaku tak jauh dari mereka.

Sivia memeluk Alvin erat2. Tiba2 dia merasakan tubuh Alvin memberat dan tiba2 Alvin merosot jatuh.

“Alvin!!!!” Sivia berteriak panik.
Rio sontak mengangkat tubuh Alvin dan membaringkannya di kasur.

“Rio…bawa ke rumah sakit Yo…”
“tenang Vi…dia cuma pingsan….ambilin minyak kayu putih aja kalau ada Vi…”
Sivia segera berlari ke kotak obat dan mengambil minyak kayu putih. Ia membaukan minyak itu ke hidung Alvin dan tak lama kemudian Alvin mulai bergerak. Badannya berkeringat dingin, wajahnya pucat, tangannya masih gemetar.
Sivia mengelus2 rambut adiknya dengan wajah panik.

“Tenang Vi…tenang…Alvin gapapa…dia cuma butuh istirahat…”
Sivia yang mendengar kalimat Rio bukannya tenang malah justru menangis menatap Alvin yang gemetaran.

“Vin…..” Ray duduk di samping ranjang. Ia menggenggam tangan sahabatnya berusaha turut menenangkan.

“Alvin ga mau menang…..Alvin ga mau…..Alvin mau pulang….pulang…”
“Vin…..” Sivia mengelus rambut Alvin dan menggenggam tangan adiknya erat2. Alvin terus mengigau dengan mata yang masih terpejam. Air mata menetes dari sudut matanya. Sivia merasakan tangan Alvin yang dingin dan gemetar. Badan Alvin juga berkeringat dingin.

Sivia menatap Rio. Wajahnya tampak panik.

“Pulang….pulang Kak….”

Air mata Sivia sudah menganak sungai melihat keadaan adiknya seperti itu. Ingin rasanya dia memutar kembali waktu dan dia tidak akan mengijinkan Alvin ikut lomba itu. Atau kalau tidak, ingin rasanya dia bertukar posisi dengan Alvin. Biar dia yang menderita penyakit laknat itu sehingga Alvin tak perlu kehilangan kemampuan menyanyinya seperti sekarang.

Sivia terus mengelus rambut Alvin. Rio duduk di sampingnya berusaha menenangkan. Sementara tangan Ray masih mengenggam erat tangan sahabatnya itu.

>>>>>>>>>

Minggu pagi….

Alvin duduk di kasur memeluk kakaknya. Dia sudah mengenakan pakaian show lengkap, rambutnya juga sudah rapi siap tampil. Tapi dia malah mendekam di pelukan kakaknya dengan wajah seperti ketakutan.

Ray duduk di sebelahnya. Dia menatap Alvin yang masih didekap oleh Sivia.

“Alvin takut Kak…”
“Alvin….Alvin sudah berlatih keras sampai hari ini. Alvin sudah berusaha dan berdoa. Kakak, dan semua orang yang mendukung Alvin juga pasti mendoakan Alvin. Alvin pasti bisa.”

“Iya Vin….jangan diinget2 lagi orang2 jahat yang kemaren itu. Kamu pasti bisa Vin.” Ray menyemangati sahabatnya. Dia tak tega melihat Alvin diperlakukan seperti kemaren. Sama fansnya pula. Ah….mencoreng nama baik saja sih mereka ini.

Alvin melepaskan pelukannya. Dia menatap Ray.

“Kamu harus menang Ray….” Nada bicara Alvin terdengar lesu.

Ray dan Sivia kaget mendengar penuturan Alvin…

“Kok gitu Vin? Kita kan bakal berjuang bersama. Kamu juga punya kesempatan buat menang kok.”

“Tapi mereka semua maunya kamu yang menang. Mereka benci sama aku.” Alvin bicara pada Ray dengan wajah putus asa.

“semua??? apa kamu ga peduli sama fans2 kamu? apa kamu pikir mereka ga pengen liat kamu menang? Fans aku pasti pengennya aku yang menang. Begitu juga dengan fans kamu pasti pengennya kamu yang menang. Kita berdua punya kesempatan Vin. Kita bakal berjuang bareng kan?”

Entah dari mana tiba2 Ray bisa mengeluarkan kata2 itu. Kedewasaan yang terpendam.
Alvin menatap Ray dengan dahi berkerut.

“Tuh…dengerin kata Ray….Alvin juga punya kesempatan untuk menang. Orang2 kemaren itu cuma orang2 sirik yang mau membuat Alvin nyerah dan putus asa. Alvin pasti bisa ngebuktiin kalau mereka itu salah. Doa kakak selalu buat kamu Vin…” Sivia mengelus pundak adiknya.

“Ayolah Vin…kita berjuang!!!!” Ray menarik2 tangan Alvin dengan wajah manja imutnya.

Alvin menatap Ray. Ray merangkul pundak sahabatnya itu.

“Kita berjuang….“ Ray mengacungkan jari kelingking kanannya ke depan Alvin.

Alvin menatap kelingking Ray yang teracung di depan mukanya dan akhirnya dia pun tersenyum dan mengaitkan jari kelingking kanannya ke kelingking Ray, Mereka siap berangkat……

>>>>>>>>>>

Di lokasi GF….

Ada Oik, Rio, Ozy, Acha, Aren dan Ify di antara kursi penonton walaupun mereka tak duduk berdekatan. Sementara Sivia duduk di kursi khusus pendamping.

Acara dibuka dengan penampilan dari 2 juara lomba itu di tahun2 sebelumnya. Setelah itu ada penampilan dari band tamu. Setelah berbasa-basi sejenak tibalah saatnya penampilan dari Ray. Ray menyanyikan lagu Lelaki Hebat dan dia menyanyikannya sambil bermain drum.

Penonton berdecak kagum dengan penampilan anak yang satu ini. Permainan drumnya tidak mempengaruhi suaranya yang tetap terdengar bagus dan menghibur.

Bapak Gubernur saja bertepuk tangan saat menyaksikan Ray mengebuk drumnya penuh semangat.

Derai sorak sorai penonton mengiringi Ray yang turun dari panggung
Tapi begitu nama Alvin disebut, suasana justru hening. Dengung bisikan mulai terdengar disana sini.

“marilah kita sambut penampilan dari Alvin!!!!!”
Hanya tepuk tangan pendukung Alvin yang menggema. Sementara yang lainnya menatap Alvin dengan sinis.
Sivia menundukkan kepalanya. Tangannya mengatup memanjatkan doa.

Aren menatap Alvin dengan jantung berdebar tak karu2an.matanya sudah menghangat menatap wajah Alvin yang tak mampu menutupi kegelisahannya.

Rio melihat ke arah Sivia yang masih tetap menunduk.

Musik mulai mengalun. Sekarang Aren benar2 menangis. Lebay memang. Tapi hatinya terasa diremas2 melihat Alvin yang tampak gugup. Aren menutup mulutnya dengan sebelah tangannya. Dia tak bisa membayangkan kalau sampai kejadian kemarin terulang lagi setelah segala usaha yang mati2an dilakukan Alvin.
“Ya Tuhan….kumohon…”

Dari kejauhan Ify menatap Aren dan Alvin bergantian. Mencoba mencerna apa yang dirasakan Aren. Ify mencoba memahami arti pandangan Aren pada Alvin. Dan dia menarik kesimpulan yang tepat. Aren menyukai Alvin.

Alvin memejamkan matanya.
“Ku mohon Tuhan…sekali ini….kumohon…..”

Alvin terbayang segala usahanya, semua latihannya, semua tamparan, cacian dan makian yang diterimanya.
“Ku mohon Tuhan….”
“Ibu……doakan aku…..”

Alvin membuka matanya dan mulai melantunkan syair lagunya.

Minta ampun aku, atas kesalahanku
Minta ampun aku, atas dosa2ku

Aku bukan siapa siapa
Aku hanya manusia, Yang tak lepas dari kesalahan

Ku serahkan hidupku padaMu
Tuhan ampuni aku
Ku memohon padaMu, Tunjukkan jalanMu

“Alviiiiiiiiinnnnn!!!!!!“ Teriakan fans Alvin menggema di penjuru ruangan.
Sivia mengangkat wajahnya yang tertunduk. Dia mengatupkan kedua telapak tangannya menutupi mulutnya. Air matanya menetes mendengar suara Alvin.
“Alvin bisa…..Alvin bisa…..Ya Tuhan…..” Sivia berkata lirih.
Sivia menatap Alvin yang menyanyi dengan penuh penghayatan. Tak ada seorangpun yang tau bahwa saat itu dari sudut mata Alvin pun sudah menetes sebutir air mata.
Dia bernyanyi dengan merasakan sakit hatinya atas segala perlakuan yang dia terima. Betapa sakit hatinya dengan semua cacian dan makian yang tertuju padanya. Betapa mereka semua tidak mau mengerti dia hanya seorang anak yang tak pernah meminta untuk mengalami hal seperti ini.

Betapa dia menyanyikan lagu itu dengan perasaan sakit yang tak pernah mereka semua tau.

Aren….Sivia…orang2 yang tau betul seperti apa perjuangan Alvin benar2 merasa Tuhan memberikan karuniaNya. Betapa mereka merasakan merinding di sekujur tubuhnya saat mendengar Alvin mampu menyanyikannya dengan sangat baik.

Semua penonton hanyut dalam syair yang terlantun. Termasuk orang2 yang pernah memaki dan mencerca Alvin. Suara Alvin terasa seperti menampar dan menyadarkan betapa egoisnya mereka selama ini.

Ku seeeeraaaahkaaaan hidupku padaMu
Tuhan ampuni aku….
Ku memohon padaMu
Tunjukkan jalanMu…..

Tunjukkan jalanMu…………

Alvin mengakhiri lagunya dengan mata terpejam.

“Alviiiiiinnnnn!!!!!!”
Sontak seisi ruangan bergemuruh mengiringi Alvin turun dari panggung. Ray langsung memeluk sahabatnya itu.

“Kamu berhasil Vin…kamu bisa….” Ray berkata penuh semangat.
Alvin masih mengepalkan tangannya yang terasa dingin karena gugup. Ray masih menggoyang2kan tubuh Alvin saking senangnya.

Aren memuji nama Tuhan berkali2. Dia sangat bersyukur. Alvin bisa melakukannya. Semua senang. Ozy, Pak Duta, Ify, Sivia, Oik, dan Rio juga.

Dan tibalah saatnya pengumuman siapakah yang berhak menjadi pemenang. Bapak Gubernur sendiri yang akan membacakan pemenangnya. Beliau sudah berdiri di atas podium dengan membawa amplop hijau berisi nama pemenangnya. Penonton menantikan dengan harap2 cemas.

“Dan yang berhak menjadi pemenangnya adalah…..”
Bapak Gubernur membuka amplop itu perlahan, membacanya sebentar, kemudian mendekat ke mike.

DEG DEG DEG……backsound suara jantung ngena banget.

Alvin dan Ray bergandengan di tengah panggung.

“Alviiiiiin!!!!!!!”

Huaaaaaa!!!!!!!! Seisi ruangan bergemuruh meneriakkan nama jagoannya. Ray reflek memeluk sahabatnya itu. Tak ada sedikitpun rasa tidak terima dalam hatinya. Dia tau Alvin pantas mendapatkannya.

Pak Gubernur menyalami Alvin dan menyerahkan piala juara 1 nya.
“Silahkan….Alvin ingin memberikan beberapa patah kata mungkin….” Pembawa acara memberikan mike kepada Alvin. Ruangan langsung sunyi senyap.

“Puji syukur pada Tuhan atas karuniaNya yang begitu indah…..Eeeee…..terkadang kritikan itu bisa menumbuhkan semangat bagi orang yang menerimanya walaupun kadang sakit hati juga saat mendengarnya…..Mmmmm….Terima kasih buat kakak yang selalu mendukungku, buat Ozy dan Ray sahabatku, Buat pendukungku yang selalu mendoakan dan memberikan semangat, untuk Aren dan Pak Duta yang sudah banyak membantuku, dan semuanya yang mungkin ga bisa aku sebutkan satu persatu. Dan untuk orang yang kusayangi, Ify…..Terima kasih….”

Ify kaget Alvin menyebut namanya sebagai orang yang……disayangi???? Ify sontak melihat ke arah Aren di kejauhan. Dan benar saja. Aren terpaku di tempat duduknya. Ia tertunduk. Mata Aren nanar menatap lantai. Penonton yang berdiri di depan, belakang dan sampingnya membuat tubuhnya terbenam. Aren merasakan ada sesuatu yang meremas jantungnya.

Setitik air membasahi lantai yang ditatap Aren. Air matanya jatuh.
Ify melihatnya…..
Ia melihat Aren yang menangis…
Karena dia…..

Alvin mengangkat pialanya dan melempar senyum pada semua orang yang hadir disana. Suasana hening tiba2 terpecahkan oleh suara tepuk tangan dari salah satu penonton di deretan pendukung Ray.
Alvin ingat wajah itu….dia salah satu dari orang yang mengeroyoknya di hotel kemarin. Dia memberikan tepuk tangan dengan tulus disusul oleh gemuruh tepuk tangan dari semua yang hadir.

Di rumah Alvin….

“Cieeee Ify nih ye…..” Sivia mencolek2 pipi adiknya yang lagi menyisir rambutnya di depan kaca di kamarnya.

“Isshhh…apaan sih Kak…” Alvin menyisir rambutnya dengan muka merona.

“Untuk orang yang kusayangi…Ify..” Sivia menirukan gaya Alvin saat mengucapkannya.

“Ih….kakak nyebelin Ih….” Alvin manyun digodai kakaknya seperti itu.

“Ahahai….adikku lagi jatuh cinta nih ceritanya. Owhh….jadi Ify tu orang yag kamu suka ya….Hm hm hm….”

“Ih kakak!!!!” Alvin tersipu malu mendengar candaan cacanilla. Dia sendiri juga tak menyangka dia berani mengucapkan itu di depan umum tanpa sadar.  sementara Sivia tertawa puas melihat muka adiknya memerah tomat.

Happy ending kan???
Iya bagi Sivia dan Alvin….
Tapi sad ending untuk Aren dan Cakka…
Dan menggantung untuk Rio dan Ify….

>>>>>>>>>>

4 bulan kemudian….

Sudah 4 bulan semenjak  GF.
Alvin menjalani hari2nya seperti biasa bersama kedua sahabatnya. Hanya saja kondisi fisiknya mulai mengalami banyak penurunan. Dia semakin sering terjatuh, sering pingsan, sering menjatuhkan barang, bicaranya mulai sulit dicerna dan semua kejanggalan2 yang sudah dijelaskan Dokter Danu di awal dulu.

Terlepas dari kondisi fisiknya, semua kembali seperti semula. Dia seringkali mengintip Ify latihan biola setiap hari Jumat. Tak ada lagi alasan baginya untuk menemui Ify. Apalagi gara2 dia ngucapin makasih buat Ify di panggung GF kemaren. Baru deketan sama Ify dikit aja, mulut cablak teman2nya langsung nyorakin ga karu2an.

Sementara Aren tetap memandangi Alvin dari kejauhan. Dia juga tak ada lagi alasan untuk bersama Alvin. Seringkali Aren menangis diam2 jika dia melihat Alvin sedang berdiri di pintu ruang musik sambil memandangi Ify dengan tatapan sukanya. Dia juga tak tahan setiap kali ikut nimbrung bareng Alvin dan sahabat2nya. yang dibahas selalu Ify. Walaupun Acha dan Ozy tak ikut2an karena mereka tau Aren suka pada Alvin.

Sivia masih terus menerima sms teror GJ dari Shilla. Cakka selalu datang ke rumahnya setiap hari Sabtu, tapi setiap kali itu pula dia tak pernah mau menemuinya, dan setiap kali Cakka datang Sivia pasti menangis meratapi perasaannya. Semakin sering dia menangis karena Cakka, semakin dalam pula perasaan Sivia padanya dan semakin terkikis pula perasaannya pada Rio.

Tapi mau bagaimana lagi. Kalu ditanya lebih suka mana antara Cakka dan Rio. Sivia pasti menjawab Cakka. Tapi dia tak mungkin begitu saja meninggalkan Rio setelah apa yang dia berikan.

Sivia sendiri juga bingung harus bagaimana. Rio begitu baik dan bisa membuat hatinya damai jika bersamanya. Sementara Cakka adalah cinta pertamanya yang sampai sekarang belum bisa dilupakannya. Berat jika harus melepas salah satu. Tapi tak mungkin juga menggenggam keduanya.

>>>>>>>>>

Minggu pagi…….

Sivia menuruni tangga dengan santai. Hari ini terasa begitu damai. Hari ini tumben Sivia bangun lebih pagi dari biasanya. Begitu membuka matanya dia langsung membuka gorden kamarnya dengan gaya anggun ala bintang iklan. Kemudian sok menghirup napas dalam2 seperti menikmati udara pegunungan yang sejuk. Tumben bangun tidur dia langsung mandi dan berdandan rapi.

“Hari minggu yang menyenangkan. Ah….Mari kita nonton TV” Sivia bicara sendiri saat menuruni tangga.
Sivia menuju ruang TV dengan semangat. Saat melewati almari kaca yang terpajang di ruang tengah, Sivia berhenti sejenak dan memandang ke dalamnya dengan senyum terkembang. Sebuah piala tanda kemenangan Alvin di pentas menyanyi 4 bulan yang lalu terpajang anggun di tengah almari. Sivia terkenang kembali segala lika liku perjuangan adiknya itu untuk bisa mendapatkannya.

“Eh….Alvin udah bangun belum ya? Udah jam segini harusnya dia udah bangun.” Sivia berbalik arah dan kembali ke lantai atas menuju kamar Alvin.

“Vin!!” Sivia mengetuk pintu Alvin.
Tak ada jawaban.….
“Vin kakak masuk ya?” Sivia memang selalu khawatir kalau adiknya sudah tak bersuara di dalam kamar. Makanya Sivia melarang Alvin mengunci kamarnya sehingga kalau ada apa2 Sivia bisa langsung masuk.

Perlahan Sivia membuka pintu dan melongokkan kepalanya ke dalam kamar mengintip dimana adiknya berada.
Sivia yang tadi sempat khawatir langsung lega begitu melihat adiknya masih berselimut di atas kasur.

“Yah…masih molor.”
Sivia berjalan ke arah jendela lalu menyibakkan gordennya lebar2 sehingga sinar matahari masuk dengan bebas menerangi seisi kamar itu dan membuat pandangan menjadi silau.

Setelah itu dia berjalan mendekati tempat tidur Alvin lalu menepuk2 tubuh adiknya pelan.
“Bangun dong Vin udah siang nih….”
Alvin ga segera beranjak dari alam mimpinya.
Sivia mencari cara agar adiknya itu mau bangun.

“Aha!!!!” Sivia bergaya layaknya ilmuwan yang menemukan ide untuk percobaan besar. Dia menemukan satu ide yang pasti langsung akan membangunkan adiknya itu dari tidurnya. Langsung ngomel2 kalau perlu Alvinnya.
Sivia cengingisan sendiri di samping Alvin yang masih terlelap.

Perlahan Sivia mendekatkan wajahnya ke kepala Alvin. Dia mendekatkan bibirnya sedekat mungkin dengan telinga Alvin kemudian dia bisikkan sesuatu.

“Bangun dong sayang….” Sivia mengatakan kalimat itu dengan nada bisikan mesra yang GJ.

Setelah Sivia membisikkan mantra mautnya, dia malah ketawa ketiwi sendiri. Tapi kemudian dia berhenti tertawa karena Alvin yang ga respek sama sekali dengan kalimat mesra penuh cintanya tadi.

“Tumben…..ga ngomel. Wah…ga bisa pake cara halus…perlu dikasarin nih….”
Sivia menarik selimut yang menutupi badan Alvin kemudian menggoyang2kan badan adiknya cukup keras.

“Alvin bangun sih……Udah siang ini….” Sivia menggoyangkan tubuh adiknya makin keras tapi Alvin tak juga mau membuka matanya.

Sontak Sivia merubah ekspresi jahilnya menjadi wajah serius.

“Vin???” Sivia menarik punggung adiknya yang tidur miring agar menghadap padanya. Dan alangkah kagetnya Sivia saat melihat darah keluar dari hidung Alvin. Sivia akhirnya menyadari adiknya tidak sedang tidur.

“Alvin????” Sivia mulai panik. Ditepuknya perlahan pipi adiknya yang pucat.
“Alvin!!!! Bi!!!!” Sivia memangku kepala adiknya yang ternyata benar2 pingsan.

“Ya Tuhan….Alvin!!! Alvin bangun Alvin….” Sivia mengelus2 rambut adiknya.
“Bibi!!!!!”

Bi Oky berjalan tergopoh2 memasuki kamar Alvin.

“Iya Neng?”
“Bi!!!! Panggilin Pak Joe. Alvin pingsan…bawa ke rumah sakit Bi…” Air mata Sivia sudah tak terbendung lagi menatap mata adiknya yang terpejam.
“Iya…iya Neng…” Bi Oky berjalan buru2 dan berteriak memanggil Pak Joe.

“Alvin…..Alvin bangun Alvin…….” Sivia memeluk kepala adiknya yang terkulai lemas. Tangannya merah karena darah dari hidung Alvin. Tak lama kemudian Pak Joe datang memasuki kamar Alvin.

“Pak tolong Pak….” wajah Sivia benar2 panik dan sangat amat khawatir. Buru2 Pak Joe membopong tubuh Alvin dan segera membawanya ke mobil untuk diantar ke rumah sakit. Sivia mengikuti di belakangnya sambil menutupi mulutnya dengan kedua telapak tangannya menahan tangis dan rasa takut.

“Cepet Pak….” Sivia di jok belakang mendekap tubuh adiknya dengan badan gemetar. Jarak rumah sakit terasa begitu jauh kali ini.

Begitu sampai Pak Joe langsung membopong tubuh Alvin yang terkulai dan membawanya ke IGD. Dokter jaga segera menangani Alvin. Sivia menunggu di luar ruangan dengan perasaan panik dan ketakutan luar biasa. Tak lama kemudian Oik yang di sms oleh Sivia datang dan langsung memeluk sahabatnya yang terus menangis.

>>>>>>>>>>

Karena kejadian itu Alvin koma selama 4 hari. Sivia benar2 panik. Tiap hari dia menangis di samping tubuh adiknya yang sama sekali tidak bergerak. Rio dan Oik setiap hari menemani Sivia menunggui Alvin. Sedangkan Cakka, Sivia sudah berpesan pada Bi Oky untuk tidak memberi tahu dimana Alvin dirawat.
Sekarang dia hanya ingin berkonsentrasi pada adiknya.

Bersyukur akhirnya Alvin bisa bangun lagi. Tapi semenjak itu Alvin tidak bisa jalan. Dia harus menggunakan kursi roda kemanapun dia pergi. Badannya sudah semakin lemah. Wajahnya sekarang tampak lebih pucat.

Alvin tak mau disuruh home schooling. Dia ngotot mau tetap di sekolahnya yang biasa. Ray dan Ozy bergantian membantu Alvin mendorong kursi rodanya di sekolah.

Alvin hanya tau dia menderita sakit yang menyebabkan kakinya lumpuh. Sivia yang memberitahunya dengan terpaksa saat Alvin bertanya padanya dengan sangat ngotot. Tapi Sivia tidak menjelaskan apa saja yang akan dia alami karena penyakit itu. Dia tak mau membuat adiknya putus asa.

Alvin tak bisa lagi main bola, tak bisa lagi main basket, ga bisa lagi jalan2 bebas bersama teman2 nya. Alvin jadi sering melamun dan wajahnya sering tampak sedih.

Alvin semakin kesulitan dengan segala keterbatasannya. Sudah 2 bulan dia menggunakan kursi roda dan dia sudah sering sekali merepotkan orang2 di sekitarnya.

Sivia selalu memberikan semangat pada adiknya. Dia akan berpidato membara di hadapan Alvin, tapi begitu masuk ke kamar dia akan menangis sepuasnya meratapi nasib adiknya. Dan sekarang kotak masuk pesan di Hpnya hanya berisi 3 nama. Oik dan Rio dengan kalimat2 motivasi mereka, dan Shilla dengan segala umpatan, cacian, makiannya tanpa mempedulikan keadaan Sivia sekarang.

>>>>>>>>>

Aren berjalan menyusuri lorong sekolah yang sudah sepi itu sendirian. Suara detak sepatunya menggema di antara dinding2 kelas di samping kiri kanan lorong.

Langkahnya pelan seakan tak tau arah tujuannya. Sebenarnya dia tau harus kemana. Hanya saja dia ragu apakah dia akan benar2 menuju kesana.

Mata Aren menatap ruangan di depannya yang semakin lama semakin mendekat. Rasanya ingin berbalik arah.

Dia berhenti di depan ruangan musik. Ia bersandar di dinding luar dekat pintu. Dia akan menunggu.

15 menit kemudian mulai terdengar ribut2 dari dalam. Disusul dengan rombongan anak2 yang bergantian keluar.
Sudah sejauh ini. Aren tak mungkin kembali. Aren berdiri di depan pintu. Dia sudah siap. Ditunggunya orang yang hendak dia temui. Tampak dia sedang membereskan tasnya di dalam ruangan. Setelah selesai dengan barang2nya sosok itu melangkah keluar dengan menenteng biolanya.
Langkahnya terhenti saat melihat Aren berdiri di depan pintu sambil memandangi dirinya.

“Aren???”

Aren tersenyum pada Ify.

“Kamu…..nunggu aku?” Ify berkata ragu takut dibilang GR sok ada yang nungguin.

Aren hanya mengangguk pelan pada Ify.
“Boleh ngomong bentar kan?” Entah kenapa Aren merasa deg2an berhadapan dengan Ify. Ada rasa takut, aneh, dan……mmmmm……apa ya…..itu tuh…..anu……cemburu……

“Iya boleh. Duduk disitu aja ya.” Ify menunjuk bangku di luar kelas yang menghadap ke kolam ikan di depan ruang musik.

Sekali lagi Aren hanya mengangguk. Merekapun duduk disana berdua.

“Mau ngomong apa Ren?”
Aren menarik napas dalam2. Wajahnya yang tertunduk perlahan mulai mengarah pada Ify. Dia menatap Ify dengan wajah serius.

“Fy…..” Aren menggantung kata2nya. Ify penasaran juga kenapa Aren bertingkah seperti itu.
“Iya?”

“Tanggal 20 nanti Alvin ulang tahun….”

Heh??? Alvin??? Apa maksudnya tiba2 dia datang dan ngomongin Alvin?

“Maksudnya?” Ify mengerutkan keningnya.

“Dengerin aku jelasin dulu ya….” Aren menatap Ify dengan wajah penuh harap.

Ify mengangguk.

“Fy…..4 hari lagi Alvin ulang tahun. Tanggal 20. Aku cuma pengen minta satu hal sama kamu. boleh ga aku minta kamu untuk…….ngasih kado special buat dia? Terserah kamu mau ngasih kado apa tapi jangan bilang aku yang nyuruh. Aku mohon…buat dia bahagia di hari itu. Aku mohon Fy….” Aren menatap mata Ify dengan tatapan penuh permohonan. Ify kaget mendengar permintaan Aren. Setelah dirasa penjelasan Aren cukup, Ify mulai angkat bicara.

“Kenapa?” Ify bertanya dengan suara pelan. Dia bisa menangkap raut kesedihan dari wajah Aren.

“Karena dia suka padamu. Kamu tau kan?”

Ify kaget juga Aren langsung to he point ngomong begitu padanya.

“Aku…..mmmm….iya…aku ngerasa…..tapi kan aku….”

“Fy kumohon….” Tanpa disangka2 Aren menangis di hadapannya. Wajahnya tampak memelas benar2 berharap pada Ify.

“Kenapa kau tidak jujur?”
Aren tertegun tiba2 Ify bertanya seperti itu.
“Kenapa kau tidak jujur kalau kau menyukainya? Kenapa tidak kau saja yang membuatnya bahagia di hari ulang tahunnya? Kenapa harus aku?”

Jantung Aren serasa berhenti berdetak mendengar pertanyaan Ify yang benar2 dalam menusuk hatinya.

“Karena dia menyukaimu….Aku….aku hanya teman baginya…..”

“Bahagia itu tidak harus selalu diberikan oleh orang yang disukai. Teman pun bisa memberikan bahagia baginya.”

“Kumohon Fy….”
Aren sadar apa yang dikatakan Ify itu benar, tapi hatinya tetap bersikukuh dengan keputusannya.

“Kumohon….” Aren menundukkan kepalanya seperti orang yang memohon.

“Aren jangan gitu dong.” Ify memegang bahu Aren dan menegakkan kembali badannya. Dia tak enak diperlakukan seperti itu.

“Iya….aku akan melakukan apa yang kamu minta….”

“Makasih Fy…makasih….” Aren menjabat tangan Ify erat sekali. Wajahnya tampak begitu lega.

“Kau sangat menyayanginya….”
Aren kaget tiba2 Ify mengucapkan kalimat itu. Ia tertegun tapi segera membuyarkan lamunannya dan kembali menjabat tangan Ify erat.

“Makasih ya Fy makasih….Aku senang kau mau mengerti. Makasih ya Fy….kalau kamu butuh bantuanku untuk mempersiapkan kadomu, aku siap melakukan apa saja. Makasih ya Fy….” Aren berkata penuh semangat. Ify tak habis pikir ada orang yang rela menyerahkan orang yang disukainya begitu saja pada orang lain. Ify hanya tersenyum pada Aren.

“Yaudah kalau gitu….aku pulang dulu ya…..makasih banget Fy…makasih banget……” Aren menjabat tangan Ify sekali lagi lalu melangkah meninggalkan Ify.
Saat Aren memalingkan wajahnya dari Ify, bersamaan dengan itu pula meneteslah air matanya. Tapi Aren melangkahkan kakinya dengan tetap berusaha tersenyum walaupun pipinya sudah basah.
‘Aku harus bisa….’

Ify masih duduk terpaku menatap Aren yang semakin menjauh.

>>>>>>>>>

Senin tanggal 20 September…..

Baru kursi rodanya saja yang turun dari mobil, beberapa anak perempuan sudah langsung menyerbunya. Padahal Alvinnya sendiri belum nongol dari dalam mobil. Mereka mengucapkan selamat ulang tahun pada Alvin, beberapa anak memberikan kado padanya. Di sepanjang perjalanan ke kelas, tangan Alvin sampai pegal menjabat tangan anak2 yang mengucapkan selamat padanya. Ray yang mendorong kursi roda Alvin juga ikutan kena imbasnya. Sekarang tasnya penuh dengan kado2 buat Alvin yang sudah ga cukup lagi dibawa pake tangan.

Pagi tadi Sivia, Bi Oky, Pak Joe dan Pak Ony sudah berdiri di depan pintu kamarnya dan langsung menyodorkan kue dan menyanyikan lagu selamat ulang tahun begitu Alvin membuka pintu. Sivia memberikan sebuah kado berukuran besar yang setelah dibuka ternyata adalah sebuah gitar. Sivia membelikannya walaupun dia tau Alvin tidak bisa memainkannya. Apapun yang Alvin minta pasti diturutin lah sama Sivia. Ayah dan Ibu di Sidney juga telfon tadi pagi mengucapkan selamat ulang tahun pada Alvin setelah sebelumnya Sivia sms mengingatkan mereka. Maklum, kesibukan membuat mereka tak mengingat hari2 seperti itu.

Di kelas, begitu Alvin masuk, tanpa disangka2 semua anak sudah hadir. Mereka semua berdiri menyanyikan lagu Happy Birthday untuk Alvin. Ada sebuah kue besar yang sepertinya hasil patungan anak2 sekelas. Alvin sudah mau mewek liat perlakuan teman2 nya. Tapi dia tahan.

Sementara anak2 cewek sudah berkaca2 saat menjabat tangan Alvin yang pucat. Malah ada yang menangis sambil memeluknya. Entah dia benar2 sedih atau cuma cari kesempatan saja. Banyak yang terharu hari itu.

Saat istirahat, Ozy, Acha dan Aren ngasih surprise di taman sekolah. Mereka memberikan kado2 masing2. Aren menyanyikan lagu Happy Birthday dengan suara kualitas papan atas eksklusif di hadapan Alvin.

Sekarang di pojok ruangan kelas Alvin sudah bertumpuk bungkusan warna warni dari anak2 satu sekolahan. Mungkin nanti dia akan meminta Pak Joe mengangkutnya ke mobil. Setiap kali tadi ada guru yang masuk, pasti langsung ditanyai,dan akhhirnya guru itu juga ikut memberikan selamat pada Alvin. Yaiyalah….kadonya menggunung begitu apanya yang ga mencolok mata.

Pulang sekolah……

From : Ify
“Jangan pulang dulu ya. Aku mau ngomong. Bentar lagi aku ke kelasmu.”

Alvin menatap layar Hp nya dengan senyum tersungging. Jantungnya mulai deg2n penasaran Ify mau ngomong apaan.

“Vin….Pak Joe udah di sms blm? Buset dah…aku aja ultah kagak pernah dapet kado menggunung begini.” Ray menatap tumpukan kado di pojok kelas sambil geleng2 kepala.

“Ho’oh” Ozy ikutan manggut2 liat tumpukan kado yang dimasukin bagasi mobil aja entah muat atau ngga.

“Eh…mmm…maaf ya, kalian pulang duluan aja ya. Aku mau ada urusan bentar sama Ify….”

Ray dan Ozy berbarenagn menengok pada Alvin. Ozy menyipitkan matanya menatap Alvin, sementara Ray mengerutkan kening dan menatap Alvin curiga.

“Ciee…cieeee….senangnya hatiku turun panas demamku. Kini aku bermain dengan riang.” Ozy menari2 GJ. Persis banget kayak anak TK. Tinggal ngasih tas punggung gambar spongebob sama ngalungin botol minuman gambar Dora, persis banget dah tuh.

Alvin cuma bisa senyum2 sambil garuk2 kepala. Mukanya yang putih, bersih, mulus dari lahir langsung memerah tomat digodain begitu.

“Vin….” Panggilan dari pintu membuat mereka bertiga langsung kicep.
Alvin udah salting ga karu2an.

Ozy langsung narik Ray.
“Vin…kita pulang dulu…ati2.…inget umur Vin….jangan macem2.…” Ozy menarik Ray keluar kelas sambil ngedipin sebelah matanya ke Alvin yang udah mematung di kursi rodanya.

Ify masuk ke kelas Alvin dan menghamiri Alvin yang deg2an ga karu2an.

“Ikut aku bentar ya Vin?”

Alvin mengangguk pelan. Ify pun mendorong kursi roda Alvin keluar kelas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar