Sabtu, 21 Mei 2011

Segalanya Pasti Berujung (PART 2)

“Alvin kenapa mbak?”

Sivia bertanya dengan nada amat sangat panik. Pikiran buruk dan bayangan yang tidak-tidak mulai melintas di benaknya. Tanpa berkata apapun Yuli langsung menggandeng tangan Sivia dan membawanya menuju halaman belakang.

Disana tampak Bu Ning yang duduk berlutut sambil tangannya memegang bahu Alvin yang berguncang keras. Alvin duduk bersandar di tembok dengan wajah dibenamkan di kedua lututnya yang ditekuk. Sepertinya dia menangis amat sangat hebat. Isakannya sampai terdengar dari tempat Sivia berdiri.

Sivia dan Yuli segera menghampiri Alvin. Bu Ning tampak kaget melihat Sivia datang.

“Mbak Via….” Bu Ning berjalan tergopoh-gopoh menghampiri Sivia.

“Alvin kenapa Bu?”

“Ibu juga ga tau mbak. Padahal tadi pagi dia masih ada di balkon”,ujar Bu Ning tak kalah panik.

“Padahal hari ini kan hari ulang tahun Alvin. Tadi pagi anak2 juga pada ngucapin Mbak, tapi ya seperti biasa dia ga merespon, tetep aja di balkon. Waktu makan siang juga dia masih seperti biasa kok Mbak”, Bu Ning menjelaskan dengan wajah penuh kepanikan.

“Lha terus kenapa bisa menangis sampai kejang begitu Bu?”

“Aduh…ibu juga ga tau Mbak. Tadi jam 4an waktu ibu ngeberesin ruang bermain, ibu liat Alvin ga ada di balkon. Nah kan tumben-tumbenan tu Mba, langsung ibu cari si Alvin. Ibu ubeg-ubeg seisi rumah ga ketemu. Eh ternyata dia udah nangis sesenggukan disini. Sejak tadi Ibu sudah berusaha menanyakan alasan kenapa dia nangis, tapi dia sama sekali tidak menjawab.”

Alvin benar-benar menangis amat sangat hebat hingga bahunya berguncang. Dia pasti sudah menangis lama sekali. Wajah Bu Ning juga tampak sangat panik.

“Biar saya coba bertanya, Bu.”

Sivia memberanikan diri untuk mencoba walaupun mungkin reaksi Alvin terhadapnya akan lebih buruk dari apa yang diterima Bu Ning.

Sivia berlutut di hadapan Alvin dan memberanikan untuk menyentuh bahu Alvin.

“Alvin kenapa?”

Sivia mengusap rambut Alvin dengan lembut. Tangannya sedikit gemetar karena takut Alvin akan bereaksi tak terduga seperti biasanya. Jangan-jangan tiba2 dia ditampar atau didorong sama Alvin.

“Alvin……” Sivia berusaha bicara selembut mungkin.

Tiba-tiba tanpa disangka sesuatu yang tak pernah dibayangkan Sivia terjadi. Tanpa disangka Alvin tiba-tiba bangun dan langsung memeluk Sivia erat sekali. Bu Ning, Yuli dan bahkan Sivia sendiri amat sangat kaget melihat kejadian ini. Bu Ning yang sejak tadi berjongkok di hadapan Alvin saja sama sekali tak mendapat respon darinya. Tapi ini…..

Sivia merasa terheran-heran dan masih tak percaya dengan apa yang terjadi. Tapi dia sekaligus merasa amat sangat senang karena Alvin mau memeluknya. Dia benar-benar senang.

Alvin memeluk Sivia dengan sangat erat. Sivia pun membalas memeluk dan mengusap rambutnya dengan lembut. Alvin masih terus menangis. Suara isakannya terdengar sangat memilukan di telinga Sivia.

Dan tanpa basa-basi lagi….

“Alvin ikut pulang sama kakak ya?”

Alvin masih terus terisak. Tangannya masih memeluk Sivia dengan erat. Dia tak menjawab pertanyaan Sivia. Hanya isakan yang terdengar dari mulut Alvin.

‘Aduh…kenapa pertanyaan itu yang keluar dari mulutku…bodohnya dikau Siv…’ batin Sivia.

“Mmmmm…tapi kalau Alvin ga mau ga apa-apa kok,”akhirnya Sivia meralat ucapannya.

Bukannya menjawab, pelukan tangan Alvin terasa semakin kuat. Sampai akhirnya Alvin menjawab dengan suara bergetar dan masih sambil terus terisak.

“Alvin…..mau….i…kut…kakak….“,tutur Alvin terbata-bata.

Sivia melihat ke arah Bu Ning dengan tatapan mata penuh harap. Bu Ning menganggukkan kepala isyarat bahwa Sivia boleh membawa Alvin pulang.

Sivia melepaskan pelukan Alvin. Ditatapnya wajah Alvin yang memerah dan basah karena terlalu lama menangis, matanya juga sembab. Sungguh berbeda dari wajah Alvin yang biasanya dingin dan tampak angkuh. Sekarang dia tampak begitu lugu dan polos dengan tampang kekanak-kanakannya. Sivia membelai rambutnya yang berantakan dengan lembut lalu mengusap air mata Alvin. Sivia memberikan satu kecupan sayang di dahinya.

 Sivia mengangkat dagu Alvin yang tertunduk dan menatap matanya yang sembab. Alvin pun menatap Sivia dengan masih takut-takut. Tapi Sivia bisa melihat tatapan manja dan rindu akan kasih sayang dalam tatapannya itu.

“Kita pulang ya?”

Alvin mengangguk pelan tanda mengiyakan. Tanpa tunggu lama lagi Sivia menggandeng tangan Alvin dan membawanya menuju mobil. Sivia berpamitan pada Bu Ning dan Yuli.

“Terimakasih, Bu, sudah membantu saya selama ini. Administrasi dan segala sesuatunya akan saya urus nanti. Saya akan datang lagi.”

“Iya Mbak Via. Ibu senang akhirnya Mbak bisa membawa Alvin pulang. Tolong dijaga ya Mbak….”

Sivia tersenyum kemudian menjabat tangan Bu Ning dan Yuli. Lalu diapun membawa Alvin pulang. Pulang ke rumah baru Alvin. Rumah baru adiknya.

>>>>>>>>>>

Sampailah Sivia di depan rumahnya. Pak Oni, satpam Sivia segera membuka pagar saat Pak Joe, supir Sivia membunyikan klakson. Alvin masih tertunduk canggung dan belum berani mengangkat wajahnya. Tangan Sivia melingkar di pundak Alvin sepanjang perjalanan. Dia bisa merasakan tubuh Alvin gemetar. Dia memang sudah berhenti menangis tapi sepertinya dia masih merasa canggung dengan ‘kakak’ barunya.

Mobil berhenti tak jauh dari pintu rumah.

“Alvin, sudah sampai, ayo turun.”

Sivia menarik pelan tangan Alvin dan membawanya turun dari mobil. Begitu sudah berada di luar, wajah Alvin yang terkena cahaya matahari menjadi terlihat jelas mata sembab dan hidungnya yang memerah karena tadi terlalu lama menangis. Secara wajah Alvin kan putih sangat. Jadi, merah sedikit aja udah keliatan banget. Sivia menatapnya iba sekaligus gemas karena wajahnya yang tampak lugu dan polos.

“Ayo masuk. Ini rumah baru kamu. Rumah kita.”

Sivia merengkuh pundak Alvin. Sementara itu Alvin tak bisa menutupi rasa takjubnya akan istana yang sekarang sedang ia pijak.

Rumah yang dulu ia tinggali bersama ayahnya sudah paling bagus di komplek, tapi menjadi tak ada apa2nya setelah melihat rumah Sivia. Dia berjalan perlahan sambil terus memperhatikan keadaan sekitar. Wajah lugunya tampak begitu mengagumi rumah barunya. Terbersit rasa senang dalam benaknya bisa punya rumah sebagus ini.

“Alvin duduk disini dulu ya. Kakak ambilin minum buat Alvin….”

Alvin hanya mengangguk pelan. Dia tampak sedikit takut. Sivia hanya tersenyum lalu beranjak menuju dapur. Dilihatnya Bi Oky sedang menjemur baju di halaman belakang. Sivia pun mendekat dan menepuk pundak Bi Oky.

“Bi!”

“Eh kolor jatoh eh kolor eh jatoh eh jatoh!!!!”

Bi Oky yang latah langsung nyerocos tak karuan dengan gayanya yang selalu bisa membuat Sivia tertawa.

“Ya ampun, Neng, kagak usah ngagetin Bibi nape sih…..jatoh kan jadinya bajunya…..”,kata Bi Oky sambil memungut jemuran yang jatuh.

Sivia hanya bisa menahan tertawa melihat tingkah pembantunya yang satu ini.

“Iya deh, Bi, maafin Via.” Via kembali tertawa melihat bibir Bi Oky yang manyun.

“Eh, Bi, ada tamu spesial nih.”

Bi Oky tampak mengerutkan kening.
“Siape, Neng?”

“Adek baru aku.”

“Heh?” Bi Oky tampak belum ngeh dengan kalimat Sivia.

“Sivia udah dapet adek baru dari panti. Sekarang dia ada di depan.”

“Oalah…..” Sivia tertawa lagi melihat mulut Bi Oky terbuka amat lebar. “Kayak gimana Neng anaknya?”

“Dia lagi di ruang depan. Nah…sekarang Bi Oky bikinin minum ya buat dia. Ajakin Pak Oni juga ya. Ntar sekalian mau saya kenalin. Oke Bi?”

“ Siap juragan!!!” ujar Bi Oky sambil mengacungkan jempol pada Sivia.

“Yaudah, Sivia ke depan dulu ya. Kasihan dia ditinggal sendirian. Kayaknya dia masih takut-takut gitu, Bi.”

“Oh, iya Neng iya. Sok atuh” kata Bi Oky dengan logat sundanya.

Sivia kembali menemui Alvin di sofa depan. Melihat kedatangan Sivia, Alvin yang sedari tadi celingukan liat kiri kanan sekarang jadi tertunduk tak berani mengangkat muka. Sivia langsung duduk di samping Alvin dan mengelus pundak Alvin.

“Alvin….mulai sekarang ini rumah kamu juga. Mmmm…..kamu bisa panggil aku kakak. Dan kakak pengen kamu ga usah canggung lagi tinggal disini. Anggap saja ini rumahmu sendiri. Pokoknya Alvin biasa aja lah disini. Alvin boleh nglakuin apa aja yang Alvin mau seperti apa yang Alvin lakuin di rumah Alvin yang dulu. Ya?”

“Alvin mengangkat wajahya dan menatap mata Sivia. Seulas senyum dan anggukan pelan membuat Sivia merasa lega. Tak lama kemudian datanglah Bi Oky dan pak Oni.

“ Adoooh adoooh adoooh…..inii to adek barunya Neng Sivia. Aduh…gantengnya…..” kata Bi Oky genit sambil mengelus pipi Alvin. Alvin yang diperlakukan seperti itu menggeser tubuhnya menjauh dari Bi Oky dan mendekat pada Sivia. Sivia menatap Bi Oky dengan alis terangkat sebelah.

“hehe…..”
Bi Oky langsung menyurutkan badannya dan berangsur2 mundur.

Sivia mengambil gelas yang tadi diletakkan Bi Oky dan menyodorkannya pada Alvin.

“Alvin minum dulu gih. Pasti haus abis nangis seharian.”

Alvin menyambut gelas yang disodorkan Sivia dengan malu2. Awalnya dia hanya menyeruput sedikit jus jeruk di dalamnya sambil menatap canggung pada orang2 disekelilingnya yang memperhatikannya, tapi lama kelamaan jus jeruk itupun tandas juga diteguk olehnya.

“Nah Alvin, kenalin ya…ini Bi Oky dan ini Pak Oni. Bi Oky ini yang suka bantu2 kakak ngurus rumah. Orangnya lucu lho. Kamu pasti seneng main sama dia. Kalau Pak Oni itu satpam yang tadi ngebukain gerbang. Kalau Pak Joe yang tadi nyetir mobil, masih inget kan? Nah…kakak cuma tinggal sama mereka bertiga. Papa sama mama lagi di luar negeri. Nanti malam paling mereka telfon. Mereka juga pengen kenalan sama Alvin. Mereka belum bisa nemuin Alvin karena pulangnya cuma setaun sekali.” jelas Sivia panjang lebar.

Mendengar penjelasan Sivia entah kenapa Alvin jadi tertunduk.

“Kalau………..mama sama papa kak Sivia….ngga suka sama Alvin gimana?” Alvin bertanya lirih sambil terus menunduk.

“Alvin…. kan kami semua adalah keluarga Alvin yang baru. Kita semua sayang kok sama Alvin.”

Sivia menjelaskan panjang lebar berusaha meyakinkan Alvin agar merasa nyaman dengan keluarga barunya. Alvin tampak mengerti dan menganggukkan kepalanya pelan. Dia sudah bisa melemparkan senyum pada Bi Oky dan pada Pak Oni.

Sivia memberi isyarat pada Bi Oky agar meninggalkan mereka. Bi Oky pun mengerti tanda dari majikannya itu.

“Bibi ke dapur dulu ya, Den”,kata Bi Oky sambil menganggukkan kepala pada Alvin. Pak Oni menyusul di belakangnya.

“Nah, Alvin, sekarang kakak tunjukin kamar kamu ya. Udah kakak pilihin tepat di samping kamar kakak. Jadi kalau Alvin butuh apa2 biar deket. Yuk….”

Sivia memang sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk saudara angkatnya nanti. Apalagi setelah melihat Alvin, dia jadi semangat menyiapkan semuanya. Sok yakin kalau Alvin bakal mau jadi adiknya. Untung keturutan.

Sivia menggandeng Alvin dan berjalan menaiki tangga ke lantai dua. Kamar Alvin memang tepat di sebelah kanan kamar Sivia. Sebuah ruangan yang sangat luas dengan balkon yang bisa memandang langsung ke lapangan bola komplek. Di depan balkon itu ada pohon yang rindang sehingga udara di balkon terasa sejuk. Sivia pikir itu tempat yang pas mengingat dulu di panti asuhan Alvin suka sekali diam di balkon.

 Alvin menatap kamar barunya dengan takjub. Hampir 3 kali lebih luas dari kamarnya di rumah yang dulu.

“Mmmm…..Alvin….mandi dulu trus istirahat ya. Di almari ada beberapa baju yang bisa Alvin pilih. Maklum, kemaren kakak cuma beli 3 stel. Habisnya kemaren kan Alvin cuek banget sama kakak. Jadi takutnya Alvin ga mau ikut kakak pulang.”

Sivia membuka almari dan menunjukkan baju yang bisa Alvin pakai.

“Alvin istirahat ya. Kakak mau ke kamar dulu.”

Sivia pun meninggalkan Alvin yang masih memandangi tiap sudut kamar barunya. Saat Sivia akan menutup pintu tiba2 Alvin memanggilnya.

“Makasih……Kak…..”

Walaupun terbata2 tapi Sivia merasa sangat bahagia dengan apa yang dikatakan Alvin tadi. Dia hanya membalas dengan senyuman lalu menutup pintu.

>>>>>>>>>>

Sivia memasuki kamarnya sambil senyum-senyum karena merasa senang akhirnya keinginannya untuk membawa pulang Alvin bisa terwujud. Dia melompat-lompat kegirangan sambil berbisik-bisik sendiri.

‘aku punya ade’…aku punya ade’…yes…yes…yes….’

Lelah melompat-lompat dan berlari-lari kecil seperti peri yang sedang terbang, Sivia lalu menjatuhkan badannya ke kasur. Dia masih tetap senyum-senyum sendiri karena akhirnya bisa memanggil Alvin “ade’ “.

Sivia membayangkan dia bersama Alvin akan melewati hari-hari yang indah sebagai kakak beradik. Ngobrol bareng, jalan-jalan bareng, maen bareng. Kemanapun selalu bersama seperti putri dan pangeran di kerajaan gitu. Ahahai lebay…..

‘Wuuuaaaahhhhhh….senangnya…..aku ga kesepian lagi’ pikir Sivia sambil memejamkan mata dan senyum-senyum ga jelas.

Sivia merogoh tasnya dan mengambil ponselnya. Dia berniat sms sahabatnya Oik untuk memberitahu kabar gembira ini. Dia mau pamer ke Oik kalau sekarang dia punya ade’ angkat yang super duper guanteng. Hehehe……

Tapi saat membuka ponselnya ternyata ada satu pesan masuk.

From : 08*******601
          “Makan-makan, Via”

Begitu membaca sms itu Sivia sontak bangun dan duduk sambil mengernyitkan dahi.

‘dia lagi? Siapa sih?’ batin Sivia.

Sivia tak tau siapa yang mengirimkan sms itu. Dan itu sudah ketiga kalinya sms dengan isi yang sama masuk ke ponsel Sivia. Dan yang bikin Sivia penasaran, orang itu selalu sms saat Sivia tak bisa hadir di acara OSIS.

Sekitar tiga bulan yang lalu, Sivia mengikuti diklat lapangan dalam rangka pemilihan pengurus OSIS karena memang yang memegang kepengurusan OSIS adalah siwa kelas XI. Jadi, diadakan diklat lapangan dalam rangka regenerasi pengurus OSIS. Dan setelah melewati proses yang panjang akhirnya Sivia terpilih menjadi salah satu pengurusnya. Memang bukan jabatan penting sih. Hanya sebagai sekretaris salah satu bidang aja.

Satu minggu setelah pelantikan, ada acara semacam perkenalan pengurus yang baru gitu. Acaranya emang ga resmi. Cuma sekedar ngumpul di rumah salah satu kakak kelas pengurus yang lama. Dan saat itu Sivia tidak bisa hadir karena ada acara kerohanian bareng temen-temen komplek. Nah, saat itulah pertama kali nomor tak dikenal itu sms Sivia. Isinya “makan-makan, Via” Gitu doang.

Yang kedua waktu ada acara syukuran karena mantan pengurus OSIS dua tahun di atas Sivia berhasil jadi juara KTI tingkat nasional. Namanya juga sekedar syukuran. Cuma rame-rameannya anak-anak aja. Dan saat itu Sivia juga ga bisa dateng karena dia baru pulang dari Bogor. Dia nganterin anak-anak sanggar tari yang diajarnya untuk mengikuti lomba.

Dan saat itu pula nomor misterius itu sms Sivia dengan isi yang sama “makan-makan, Via”

Dan malam ini memang ada ngumpul bareng anak OSIS lagi. Buat perpisahan sama pengurus OSIS yang lama katanya. Soalnya pengurus OSIS yang lama kan sekarang sudah kelas XII jadi mereka akan konsen ke Ujian Nasional. Jadi, mungkin pengurus yang baru harus mulai belajar mandiri nih.

Nah….Sivia lupa kalau ada acara itu karena terlalu sibuk dengan Alvin. Lagipula dia tak rela kalau harus melewatkan malam pertamanya bersama adik barunya itu tanpa ada sesuatu yang berkesan. Jadi Sivia memutuskan untuk tak datang ke acara itu.

Dan tentang si nomor misterius?

‘Siapa sih ni orang? Dari dulu ditanyain kagak pernah jawab. Apa aku tanya lagi aja ya…’

Akhirnya Sivia memutuskan untuk membalas sms itu

To : 08*******601
“Sebenarnya kamu ini siapa? Anak OSIS ya? Dari dulu kirim sms isinya kayak gitu mulu. Siapa sih?”

Sivia menunggu balasan dari nomor misterius itu.

Sivia penasaran sekali sama orang itu. Lagian dari hampir 40 orang pengurus OSIS yang baru itu, siapa coba yang bisa dicurigai.

Lama Sivia menanti balasan dari nomor misterius itu tapi tak kunjung datang. Akhirnya Sivia memutuskan untuk mandi saja.

‘Peduli amat sama tu orang. Ga mau ngaku yaudah’ pikir Sivia kesal sambil beranjak menuju kamar mandi.

>>>>>>>>>>

Sivia sudah selesai mandi. Jam menunjukkan pukul 8 malam. Dia memutuskan untuk melihat Alvin dan mengajaknya makan malam.

Tok tok tok…..
Sivia mengetuk pintu kamar Alvin

“Vin……”

Tak lama kemudian Alvin membuka pintu. Dandanannya sudah lebih rapi sekarang. Mukanya juga sudah tidak merah seperti tadi.

“Iya ,Kak?”

“Makan yuk….Alvin pasti laper”,ajak Sivia.

Perut Alvin memang sudah kerocongan dari tadi. Sejak tadi siang dia belum makan apa-apa. Apalagi dia habis nangis sekuat tenaga tadi sore. Dasar Alvin sok-sokan nangis segala sih. Laper kan lo?

Alvin hanya mengangguk malu-malu pada Sivia. Sepertinya dia masih canggung. Sivia hanya tersenyum lalu merengkuh pundak Alvin dan mengajaknya ke ruang makan.

Di ruang makan pun Alvin tak segera mengambil makanannya. Akhirnya Sivia mengambilkan nasi dan lauk untuk Alvin. Sivia memahami perasaan Alvin yang tampak belum terbiasa.

“Alvin makan yang banyak ya…..Biar tambah ganteng…..” seloroh Sivia sambil nyengir. Apa hubungannya coba…

Alvin menyuapkan nasi ke mulutnya dengan perlahan. Walaupun sebenarnya perutnya sudah sangat keroncongan ingin segera menyantap hidangan di depannya. Tapi dia tau diri lah. Belum juga ada sehari dia tinggal disini. Apalagi kalau ingat semua perlakuannya ke Sivia selama ini. Alvin jadi tak enak hati. Makan malam pun berjalan dengan hening. Alvin makan sambil terus menunduk. Sedangkan Sivia tak mau mengalihkan pandangannya dari wajah adiknya itu.

Sivia memperhatikan wajah Alvin. Mata sipitnya yang bening tapi memancarkan kesedihan (kayak lagunya zigas), hidungnya yang mancung terbentuk sempurna di atas bibir merah merekah yang kalau sedang tersenyum manisnya ampun ampunan dah. Kulitnya putih bersih. Ahhhh….(sebenernya itu kesan penulis kalau liat Alvin ;D) Sivia sungguh terpesona dengan adik barunya ini. Pengen rasanya dia bawa Alvin ke teras trus teriak “Wooooiiiiii!!!!!! Kenalin nih ade’ku yang pualing guanteng!!!!!!!”

Sivia hanya senyum2 sendiri memperhatikan wajah Alvin.

Selesai makan malam Sivia mengajak Alvin nonton TV. Upin Ipin…..Alvin menatap layar TV dengan wajah serius dan sedikit tegang. Sedangkan Sivia masih memandangi adiknya itu. Dia perhatikan segala polah tingkah Alvin. Dia garuk2 kepala, mainan jari, ngucek2 mata, semuanya Sivia perhatikan. Dia merasa sayaaaaang banget sama Alvin.

Asyik memperhatikan Alvin tiba2 Sivia terkesiap karena teringat sesuatu.

“Mmmmm…Vin….”

Alvin yang sedari tadi berwajah serius jadi sedikit kaget tiba2 Sivia bicara.

“Iya , Kak?”, jawab Alvin pelan.

“Kakak boleh nanya sesuatu ga?”

Alvin hanya mengangguk. Sungkan juga kakaknya pake minta ijin segala mau nanya doang.

“Kamu tadi kenapa nangis?”

Wajah Alvin lanhgung berubah rona. Dia langsung menunduk tak berani menatap waqjah Sivia. Sivia masih menunggu jawaban Alvin.

“Ga papa….cerita aja sama kakak…..”

Sivia menanti Alvin membuka mulutnya. Menunggu satu kalimat meluncur dari bibir Alvin bagaikan menanti hujan di musim kemarau. Ceilee……gaya lo….habisnya Alvin ngirit banget sih kalo ngomong. Kaya kalau ngomong bakal kena pajak aja.

“Mmmmmm…..Alvin….”

Alvin mulai membuka suara…..walaupun baru nada dasar….semoga ada lanjutannya…….

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar